Press "Enter" to skip to content

Wahai, Ayah Bunda.. Berhentilah Memaklumi Tingkah Nakal Anak Dengan “Namanya Juga Anak-Anak.”

Ayo Bagikan:

Thread di Twitter semalem seru…..tentang kebiasaan orang tua di Indonesia yang memberikan alasan terhadap kelakuan kurang ajar anaknya dengan kalimat “Maklum….namanya juga anak2”

Hal yang udah lama bikin gw geregetan banget…..kalo ngeliat anak kecil pada kurang ajar….berisik….teriak2 dan orang tua-nya ngediemin aja….seolah2 yang anak2 itu lakukan tidak mengganggu orang lain…..dan kaya hal yang biasa aja…..

Dan ternyata banyak sekali yang sebenernya merasa terganggu dengan kebiasaan ini……
Disisi lain membuktikan kalo banyak Pasangan menikah yang punya anak bisa banyak tapi belum tentu berhasil jadi orang tua…….

Gak tau kenapa orang tua disini suka banget bikin alasan soal anaknya yang sebenernya masalahnya ada di orang tua-nya…..

Orang tuanya males jalan, males bergerak, abis itu alasannya “kasian anak2 takut capek”
Wilson pernah cerita pas naik gunung lihat 1 keluarga plus anaknya 3 yg masih umur 9, 7 sama yg baby…..dan 1 keluarga ini berhasil naik sampe ke puncak gunungnya…..dan justru anak2 mereka sangat cepat jalan dan gak keliatan capek……so ini masalah kebiasaan kan jadinya yang ditanamkan orang tua dari anak2 masih kecil…..ini bukan “Namanya juga anak2”

Gw bisa lihat koc mana anak2 kecil yang sibuk main sendiri sama yang sibuk cari perhatian orang dewasa…..

Anaknya ponakan wilson ada niy yg begini….masih kecil….tapi CAPERRRRRR banget…..yang manggil orang dewasa gak sopan….yg sibuk naik2 meja….ribut brisik….pengen gw sentil rasanya……dan waktu ditegor sama wilson…..guess what opungnya bilang apa? “Jangan digituin nanti dia jadi takut” LAHHHH

Bukannya anaknya dikasi tau malah kita yang dewasa yang harus ngerti? WTF

Belum kalo di transportasi umum….di kereta CL-lah…..anak2 kecil dibiarin berdiri di kursi dengan sepatu, sendal kotornya……gak ada mind of othersnya…..

Gw amaze banget pas di Japan naik CLnya dan tiba2 di salah satu stasiun, naiklah rombongan anak TK kayanya rame2 dengan guru 4 orang, gw kebayang “bakalan brisik neh” dannnnn ternyata….sepanjang perjalanan mereka gak brisik loh…..ngobrol iya…depan gw duduk ada 2 anak perempuan ngobrol dengan suara pelan, kadang bisik2…..Koc Bisa Ya?

Pointnya berarti bukan di “Namanya juga anak2” tapi di bagaimana orang tua dan orang dewasa di sekitarnya (kakek, nenek, tante, om) ngajarin dan memberi contoh…..
Silahkan dibaca komen2 para korban “Namanya juga anak2”

Update: Karena postingan ini sudah di Share 5k lebih dan sepertinya masih banyak Ibu2 yang Salfok, termasuk melebar ke urusan apakah saya sudah punya anak ato belum yg mana menurut saya siy gak ada hubungannya, yang suka nonton Nanny 911 pasti tau Nanny-nya juga belum punya anak tapi sangat menguasai ilmu parenting

Point postingan saya ditujukan kepada para orang tua yang cuek, mendiamkan, ignorant, pura2 gak lihat, sampe yang gak terima kalo anaknya ditegur ketika prilaku anaknya sudah MERUGIKAN ORANG LAIN, apalagi kalo sudah merugikan secara materi …..

ini yg perlu saya garis bawahi, jika anak anda melakukan seperti itu, anda sebagai orang tua selayaknya wajib meminta maaf atau menjelaskan situasi yang sedang anda alami dan BERTANGGUNG JAWAB atas kerugian yang dialami orang lain,….. jangan melempar tanggung jawab, lepas tangan terlebih marah balik…..kuncinya saling TENGGANG RASA,…bukan minta pemakluman mengatas namakan “Namanya juga anak2”

Tambahan: buat Ibu2 dengan anak berkebutuhan khusus, bukan saya dan para korban tidak mau mengerti ya, kami juga punya rasa empati, tapi Ibu2 bisa bicara kan pada kami untuk menjelaskan situasi Ibu… dan sekali lagi kalo ada kerusakan materi yang diakibatkan hal tersebut, ya tetap harus bertanggung jawab.

sumber: Veronica Hanny Arsanty Tan

:: Luka Di Hati Anak

Dear Bunda,

Di hari yang sama, saat saya menulis catatan “Sejarah itu Bernama Anak Pertama” ada dua orang wanita yang mengirimi saya pesan. Yang pertama adalah wanita muda lajang, berikutnya adalah wanita yang sudah menikah. Mereka sama-sama bercerita tentang “pahitnya” pengalaman menjadi anak pertama.

Tapi kisah wanita lajang ini..benar-benar membuat saya tersentuh. Saya adalah seorang ibu, dan dari ceritanya, saya jadi merenung, apa saja yang telah saya lakukan pada anak-anak kami selama ini..

Gadis ini mengawali ceritanya, dengan masa kecil yang bisa dibilang kurang bahagia. Entah mengapa, si ibu yang berperangai keras kerap melakukan kekerasan verbal dan non verbal padanya.

“Saya sering dipukul hanya karena masalah sepele. Seperti malas belajar membaca, atau malas mengaji. Pernah gantungan baju mendarat di mata saya, untung lukanya tidak berbekas..” cerita gadis itu, pada saya.

Dan derita Gadis, justru berawal setelah keuangan keluarga membaik, dan lahirlah adik perempuannya. Si adik, menurutnya sangat disayang oleh seluruh keluarga besar, termasuk ayah ibunya. Adik yang cantik dan seperti barbie.

“Adik saya ini cantik sekali.. jauh lah sama saya. Saya ingat, sedih sekali waktu ada saudara yang bilang, ‘hayoo sekarang papa mama diambil adikmu..’ membuat saya benci sama adik. Dia cantik, dia lebih disayang, sedangkan saya selalu dimarahi..”

Gadis kecil pun tumbuh dalam kebencian. Benci terhadap ayah ibu, benci pada kehidupannya, dan terutama: benci pada si adik cantik. Pernah ia lampiaskan kebencian itu dengan membekap sang adik menggunakan bantal. Dan hasilnya, ia dikurung di kamar mandi setelah sebelumnya disiram air dingin dari dalam bak. Tanpa si ibu mau tahu, apa isi di balik hati anak berusia 7 tahun itu; mengapa ia begitu membenci adiknya.

Oh..perih hati ini mengetahui kisah masa kecilnya. Gadis.. pasti lah batin kanak-kanakmu itu penuh tanya dan luka.

Tapi ajaibnya, Gadis berprestasi. Ia bisa masuk ke SMP favorit di kotanya. Tapi sang mama akhirnya memaksa ia untuk masuk ke sekolah swasta elite. Tempat yang akhirnya membuat ia menjadi gadis yang semakin muram.
“Pendapat dan keinginan saya tidak didengar. Mama terus saja memaksa saya masuk ke sekolah borjuis itu. Saya tidak pede bu, saya minder. Teman-teman melihat saya aneh. Teman saya di sana hanyalah satpam dan petugas cleaning service..”

Gadis remaja pun tumbuh menjadi ABG yang kikuk, kurang pergaulan, dan yang paling dramatis: kurang kasih sayang.

Hingga ada seorang guru lelaki, di sekolahnya, yang menurutnya begitu perhatian dan baik. Mungkin kebaikan biasa seorang guru pada murid, namun si Gadis yang haus kasih sayang, mengartikan itu sebagai cinta.
“Saya jatuh cinta pada guru itu. Sampai saya bawa pulang fotonya. Tapi lama-lama mama tahu, dan saya dihardik ‘cilik-cilik mikir lanangan ae.’ –masih kecil mikir cowok melulu- saya sakit hati. Karena cuma guru itu yang jadi semangat saya..”

Apa yang terjadi kemudian?
Gadis terus dan terus saja mencari kasih sayang dari lingkungannya. Puncak kesedihan saya, adalah ketika ia cerita, sudah melepas keperawanannya demi satu kata: dicintai.

“Mungkin saya terlalu lugu waktu itu. Tapi saya selalu senang ketika ada lelaki yang mendekat, dan menyayangi saya. Minta apa saja pasti saya berikan..”

Obrolan saya putus sampai di sini. Saya tidak kuat lagi mendengar cerita berikutnya dari Gadis. Kurang kasih sayang, haus perhatian, seks bebas.. oh sedihnya.. bagaimana jika ia adalah anak saya? Bagaimana saya bisa menjamin anak-anak saya bebas dari dendam masa lalu karena kecerobohan saya; ibunya?

Kita bisa menghardik anak sesuka kita, membandingkan ia dengan saudaranya, mencela kebiasaan buruknya. Tapi kita tidak pernah tahu, bagian mana dari diri kita yang akan diingatnya seumur hidup. Belaian sayang kah? Atau celaan yang menimbulkan luka?

Bercermin dari kisah Gadis, saya jadi sadar bahwa anak tidak butuh ibu yang cerdas dan hebat. Tapi anak kita, jauh lebih membutuhkan ibu yang menerima dia apa adanya.

Ibu yang menerima tampan atau tidak tampannya ia
Ibu yang menerima cantik atau buruk rupanya ia
Ibu yang menerima berapa pun peringkatnya
Ibu yang menerima jalan hidupnya, meski berbeda dari anak lainnya
Mari peluk erat lagi anak-anak kita

Dan terimalah ia apa adanya.
Ingat ingat lagi saat kita memohon rezeki berupa anak pada-Nya
Masihkah kita tega untuk menyakitinya?

Salam cinta anak,
Wulan Darmanto
Sumber : Wulan Darmanto

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *