Press "Enter" to skip to content

Suka Marah Sama Anak? Begini Cara JITU Agar Tidak Mudah Marah Sama Anak. Kasihan Si Kecil Kalau Dimarahin Ibunya Mulu :'(

Ayo Bagikan:

Begini Bunda Cara Agar Tidak Mudah Marah Terhadap Anak

Banyak Bunda yang bertanya tentang cara agar tidak mudah marah terhadap anak. Karena anak yang sering di bentak dan di marahi akan membuat pertumbuhannya tidak baik, berikut kami ulas yang kami rangkum dari berbagai sumber, simak:

1. Pahami terlebih dahulu. Apakah gejala awal yang Anda alami saat mulai merasa emosi?

Kapan kemarahan Anda meledak? Begitu Anda mulai merasa emosi, segera hentikan apa pun yang sedang Anda lakukan, kemudian pergilah ke tempat di many Anda bisa menyendiri dan menenangkan diri. Ingatkan diri sendiri, bahwa Anda sedang berusaha melawan kemarahan yang Anda rasakan dan bukan melawan anak.

2. Temukan kata yang menenangkan. Saat ada waktu, pikirkan kata atau kalimat apa yang kira-kira dapat menenangkan Anda, kapan pun Anda merasa sedang emosi. Misalnya, “Sabar, Namanya juga anak-anak.”

3. Apa yang Anda, anak dan orang lain pikirkan mengenai apa yang Anda lakukan? Saat Anda sedang merasa tenang, bayangkan apa yang Anda, anak dan orang lain pikirkan mengenai apa yang Anda lakukan terhadap anak, jika Anda sedang marah kepadanya. Apa akibat dari apa yang Anda lakukan, hanya karena emosi?

4. Anggap sebagai permainan. Anggap saja kemampuan mengontrol emosi sebagai permainan. Jika emosi Anda meledak, berarti Anda kalah, sedangkan Anda seharusnya bisa memenangkan permainan tersebut.

Apa yang bisa Anda peroleh dengan memenangkan permainan tersebut? Penghargaan dan kasih sayang dari anak, orang-orang yang Anda sayangi dan juga diri Anda sendiri.

5. Tertawakan saja. Mungkin anak memang sedang menguji kesabaran Anda. Jika biasanya emosi Anda dengan cepat meledak saat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan, bagaimana jika Anda mencoba untuk menertawakannya saja?

Setelah itu, katakan kepada diri sendiri, “Masa begitu saja marah?”

6. Minta bantuan kepada anak. Berikan kepercayaan kepada anak untuk membantu Anda. Untuk itu, Anda perlu meminta bantuan kepada anak. Jangan hanya bisa mempersalahkan anak, karena Anak pasti akan lebih mudah diajak bekerja sama, jika Anda memintanya baik-baik.

Misalnya, “Mama tidak bisa mengantar kamu ke sekolah, kalau kamu tidak mau memakai baju. Kamu tidak bersekolah, mama yang sedih ……

7. Pandangi cermin. Kapan saja Anda merasa marah, pandang bayangan wajah Anda dalam cermin. Apakah Anda menyukai apa yang Anda lihat? Jika tidak, apa yang bisa Anda lakukan untuk mengubahnya?

8. Segarkan diri. Mencuci muka atau mandi dengan air dingin pasti bisa membuat Anda merasa lebih segar dan nyaman.

9. Tarik papas dalam-dalam. Hirup udara segar dengan menggunakan hidung, sedalam mungkin. Alirkan udara segar tersebut ke perut, kemudian hembuskan keluar melalui mulut. Lakukan beberapa kali, hingga Anda merasa lebih tenang.

10. Bagaimana dengan curhat? Usahakan sebisa mungkin untuk tidak meluapkan emosi kepada anak. Lebih balk Anda segera menyambar gagang telepon, untuk menceritakan tentang apa yang Anda rasakan kepada sahabat dekat sesama ibu.

Minta kepada sahabat Anda untuk mengatakan sesuatu yang dapat membuat Anda merasa lebih tenang dan gembira. Dan jangan lupa melakukan hal yang sama untuknya.

Ayah, dekatkan dirimu dengan Si Kecil melalui 8 langkah ini

Dear Ayah Bunda,

Pergeseran tren ekonomi di abad 21 turut memperkuat peran Ayah dalam pengasuhan. Ayah masa kini lebih aktif dalam pengasuhan, terlebih melihat lebih banyak ibu bekerja dan kedewasaan Ayah untuk memperbaiki masalah-masalah pengasuhan yang ia alami di masa lalunya.

Ayah berpengaruh besar dalam setiap tahap usia perkembangan anak, tidak hanya sebagai pemberi nafkah belaka. Jika Ibu menyediakan kestabilan emosional kepada anak, Ayah adalah tempat mencari keamanan dan kepastian dalam hidup. Seperti disampaikan oleh tokoh psikologi mashyur, Sigmund Freud, kebutuhan terbesar dalam masa kecil seorang anak adalah perlindungan dari sang Ayah.

Dengan sederet peran yang perlu dimainkan, Ayah perlu hadir dalam berbagai momen kehidupan anak. Anda dapat mulai mendekatkan diri dengan Si Kecil, melalui 8 langkah pengasuhan efektif Ayah berikut ini.

1. Aktif bermain dengan anak

Dengan energi yang lebih besar, Ayah adalah teman bermain yang seru. Permainan yang mengutamakan aksi fisik atau olahraga, sangatlah menyenangkan dilakukan bersama Ayah. Ayah dapat mengajarkan sportivitas dan semangat juang kepada anak melalui permainan atau olahraga ini. Termasuk hikmah berharga, bahwa menang atau kalah adalah hal biasa dalam hidup.

2. Asah ketangguhan anak

Ketimbang Ibu, Ayah biasanya lebih berani mengambil risiko dan tak gentar menaruh ekspektasi lebih tinggi. Sisi tangguh Ayah dapat ditularkan kepada anak, mulai dari meyakinkannya bahwa segeralah bangkit setelah terjatuh, seperti saat berlatih naik sepeda. Selain itu, anak juga akan merasa lebih percaya diri saat Ayah tak henti memotivasinya untuk memberikan segenap usaha terbaiknya.

3. Perlakukan lawan jenis dengan sepantasnya

Sebuah video yang dibuat dalam rangka Hari Ayah, begitu menguras emosi. Aaron Dickson asal Washington, AS, mengajak anak perempuan mungilnya dalam sebuah kencan pertama yang begitu manis. Ia menunjukkan betapa seorang wanita yang ia cintai, layak mendapatkan perlakuan yang baik, sopan, dan menyenangkan.

Banyak cara lainnya yang dapat dilakukan untuk menghabiskan waktu dengan anak perempuan Anda. Hal-hal sederhana seperti berbincang sepulang sekolah, membaca buku di perpustakaan bersama, menonton konser musik, apapun yang membuatnya merasa dihargai dan dicintai sembari melakukan kegiatan favoritnya. Untuk anak laki-laki, tunjukkan penghormatan dan rasa cinta Anda kepada istri tercinta.

Ia pun akan melihat teladan sesungguhnya dan tumbuh menghargai kaum Hawa sepenuh hati. Lakukan hal-hal ini sejak dini, sehingga telah terpatri di benak mereka sedari kecil. Ketika tiba waktunya, anak-anak Anda merasakan ketertarikan dengan lawan jenis, mereka telah siap dengan bekal kematangan berpikir untuk tidak melakukan hal-hal konyol demi mencari perhatian atau melampiaskan nafsu belaka.

4. Seimbangkan disiplin dengan kesenangan

Identik dengan ketegasan, tak jarang anak-anak memandang Ayah sebagai penegak disiplin yang ditakuti. Mereka menjadi segan kepada Anda, takut akan konsekuensi yang mereka terima atas pelanggaran atau kesalahan yang dilakukan. Di sinilah Ayah perlu menciptakan keseimbangan untuk menegakkan aturan tanpa membuat anak terbebani.

Caranya, tetapkan aturan sesuai taraf masing-masing kepentingan. Ada aturan yang wajib berlaku dan lebih saklek, seperti yang menyangkuta agama atau ibadah dan keselamatan. Ada pula aturan mengenai pemenuhan kewajiban yang disertai dengan cara pengelolaan waktu, seperti tanggung jawab akademik dan pekerjaan rumah tangga.

Kala anak berbuat kesalahan, bahas dengan diplomatis dampak dari kesalahannya dan berilah waktu untuknya memikirkan solusi secara mandiri. Jika tiba saatnya ia berhasil atau mampu memperbaiki kesalahannya, rileks dan berilah kesempatan bersenang-senang bersama Anda.

5. Kualitas di atas kuantitas

Tekanan rutinitas kerap membelenggu Anda untuk menghabiskan waktu dengan anak-anak tercinta. Wajar jika timbul kecemasan seperti tertuang dalam artikel Mirror berdasarkan survei pada 10.000 keluarga di Inggris ini. Pada hari kerja, seperempat dari total responden menyebutkan mereka hanya menghabiskan waktu sekitar 34 menit dengan anak-anak mereka.

Di akhir pekan pun, hanya 2-3 jam yang dapat mereka habiskan bersama anak-anak. Kegiatan yang dilakukan pun berkisar pada menonton televisi, film, atau bermain game. Namun, Anda tak perlu selalu risau pada kuantitas waktu ini. Melissa Milkie, seorang sosiolog yang melakukan penelitian kuantitas dan kualitas hubungan orang tua dengan anak, menyebutkan bahwa apa yang Anda lakukan saat menghabiskan waktu dengan anak-anak lebih penting dari jumlah aktual waktu tersebut. Kualitas di atas kuantitas, sebutnya.

Fokuskan perhatian Anda pada anak dan berikan respons yang tulus. Utamakan melakukan kegiatan aktif interaktif, daripada memandangi layar elektronik belaka.

6. Hari spesial keluarga

Family comes first. Sebuah motto yang dapat Anda tanamkan dengan kuat dalam hidup anak-anak Anda dengan rutinitas sederhana. Tetapkan satu hari sebagai hari keluarga, bisa dimulai dengan sebulan sekali. Pada hari ini, segenap keluarga beraktivitas bersama tanpa gangguan apapun, termasuk ponsel, gadget, pekerjaan, dan televisi. Anda dapat menggelarnya di rumah atau berwisata ke tempat yang tenang, jauh dari keramaian. Pilihan lain, lakukan kegiatan sosial membantu mereka yang membutuhkan. Satu hari penuh arti, yang akan bermanfaat besar bagi perkembangan pribadi Si Kecil nanti.

7. Proyek bersama penuh kebanggaan

Selami bakat dan minat anak, lalu ajak mereka membuat proyek bersama Anda. Bebaskan mereka untuk merancang ide dan perwujudannya. Tempatkan diri Anda sebagai fasilitator, mendampingi dan mendukung usahanya, bukan mengatur A sampai Z langkahnya. Anda merasa kurang kompeten untuk memenuhi keinginannya, belajarlah bersamanya dan berbesar hatilah untuk menunjukkan ketidaktahuan Anda ini. Anak pun akan menyadari bahwa Ayah yang tak malu menampakkan ketidaksempurnaannya dan mau mempelajari hal-hal baru bersamanya, adalah Ayah terbaik yang ia bisa miliki.

8. Jagalah kekompakan dengan Ibu

Ayah dan Ibu umumnya memiliki gaya pengasuhan berbeda. Sambut perbedaan ini dengan apresiasi, selama tidak berdampak negatif bagi anak. Hindari membandingkan, menjatuhkan, atau berkompetisi dengan Ibu dalam perjalanan pengasuhan Anda. Anak perlu memahami perbedaan cara pandang dari dua gender berbeda, supaya dirinya menjadi lebih luwes dalam bersosialisasi.

Yang terpenting, selalu berdiskusi dengan pasangan Anda untuk menetapkan tujuan utama pengasuhan Anda dan aturan dasar yang wajib ditepati, terkait keselamatan dan kenyamanan hidup anak-anak Anda.

Menjadi pria nomor satu dalam keluarga, Ayah memegang amanat penting dalam pengasuhan anak-anaknya. Seorang pemimpin seyogyanya turut terjun membimbing para anggota keluarga untuk menjadi apa yang diharapkan tercapai.

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *