Press "Enter" to skip to content

Siapa Bilang Jadi Ibu Itu Mudah? Beraaaaattt Tauuu…..

Ayo Bagikan:

Siapa bilang jadi ibu itu mudah?

Hamil susah payah. Ada yang morning sickness hingga trimester tengah. Ada pula yang all day sickness makan minum selalu muntah. Bukannya menggemuk justru bolak balik rumah sakit buat di infus dan transfusi darah. Begitu hamil tua, jalan jauh sedikit napas udah terengah-engah.

Lalu dari proses melahirkan banyak cerita. Ada yg memang lancar jaya tak memakan waktu lama. Ada yang harus merasakan kontraksi berhari-hari bahkan minggu dengan kesakitan yang tiada tara. Belum lagi yang terindikasi preeklampsia/janin sungsang/pembukaan macet/pendarahan hebat sehingga mau tak mau caesar adalah satu-satunya cara. Tak tanggung-tanggung, dalam proses ini para ibu siap bertaruh nyawa.

Sesaat setelah melahirkan yang pervaginam ada yang harus merasakan cenat cenut jarum dan benang karena jahitan. Yang caesar ada yang bahkan tersenyum lebar pun rasanya nyeri tak keruan. Semua badan rasanya remuk redam tak tertahankan. Bergerak sedikit saja rasanya ada tulang yang terpatahkan. Atau otot-otot yang terasa tak memiliki lagi kekuatan.

Setelah tiba saatnya inisiasi menyusu dini, masalah kembali menghadang. Ada yang alhamdulillah ASI langsung memancar lantang. Tapi tak sedikit pula yang terpaksa kembali pucat pasi menerima fakta dirinya inverted nipple (puting rata) yang memaksa si bayi menyedot dengan sedikit berjuang. Atau ada pula yang ASI nya sama sekali gak keluar dan kering kerontang. Iya, harusnya segera menemui ahli laktasi yaa, tapi apa daya ibu ini hidup di pedalaman yang jangankan ahli laktasi, tenaga kesehatan hanya seadanya saja berjaga di puskesmas malam dan siang.

Begitu selesai masalah IMD, pulang ke rumah langsung di sambut sleepless night alias begadang sepanjang malam menjaga bayinya yang baru mengenal dunia. Yang suaminya pengertian masih enakan bisa gantian berjaga. Tapi tetep saja, tenaga habis untuk menyusui bayi sepanjang malam hingga pagi menampakkan mukanya.

Setelah bayi berusia 6 bulan, ibu harus kembali rempong dengan segala urusan per-MPASI-an. Ada banyak sekali informasi yang berseliweran. Dari mulai MPASI homemade ala WHO, BLW, Food Combining, atau menu vegetarian. Semua dilahap dan diproses pelan-pelan. Ada juga yang karena suatu alasan memilih MPASI instan. Semua pilihan punya tantangan dan mengundang komentar orang yang membuat ibu harus mampu bertahan.

Tiba tumbuh kembang bayi mulai pesat. Liat anak tetangga kanan kiri pertumbuhannya begitu cepat. Duh anak sendiri kok kayaknya terasa lambat. Belum lagi omongan orang tentang anak yang tumbang nya setahap demi setahap membuat ibu harus menegarkan diri lekat-lekat.

Anak mulai menginjak usia 1 tahun, 2 tahun, hingga ada di penghujung usia balita. Kebutuhannya sudah bukan sekadar makan minum semata. Ada emosi yang perlu diberi ruang untuk berkembang dan diterima. Ada keinginan yang mulai butuh dikomunikasikan demi damai jiwanya. Pada tahap ini ibu mulai naik turun mengatur emosi yang seringkali menyesakkan dada. Tapi demi anak yang tumbang nya sempurna, ibu harus memiliki kesabaran seluas samudera.

Masya Allah tabarakallah. Menjadi ibu memang tidaklah mudah, karena ganjaran tertingginya adalah jannah.

Karenanya, salah satu resep menjadi ibu bahagia adalah saat kita mampu mensyukuri setiap kesusahan yang ada sebagai ladang pahala.

Saat kita merasa susah, lelah, dan hampir menyerah dengan kehamilan yang bermasalah, bersabarlah, bersyukurlah, ingatlah Allah tengah menjanjikan jannah. Sungguh ada banyak orang yang mendambakan untuk hamil tapi belum Allah ijabah.

Saat kita merasa begitu kesakitan jelang melahirkan, ingatlah betapa pahala yang besar tengah diberikan. Di tiap rintihan, teriakan, dan kekuatan yang digunakan untuk mengejan, Allah limpahkan berjuta-juta pahala yang tak terhitungkan. Bersyukurlah kita akan melampaui sebuah pengalaman tak terlupakan yang menakjubkan.

Saat baby blues menyerang, segeralah mencari bantuan. Katakan pada suami atau orang terdekat apa-apa yang kita butuhkan. Apakah sekadar waktu untuk bercerita, sekadar pelukan, sekadar pujian atas tubuh yang tak seseksi saat masih sendirian. Ingat pula Allah selalu ada untuk dimintai pertolongan. Bersyukur bahwa Allaah telah memberikan predikat baru yang menggembirakan. Sebuah predikat yang banyak wanita begitu mendambakan.

Saat anak kita mulai sering menguji iman dan kesabaran. Ingat-ingat lagi mereka hanyalah titipan, bukan hak milik kita sendirian. Ingatlah mereka milik Allah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah kita mampu bersabar atas segala ujian dan tantangan?

Masya Allah tabarakallah. Menjadi ibu memungkinkan kita untuk meraup pahala sebanyak mungkin dikeseharian. Dari mulai mengajarkan anak kebaikan-kebaikan sebagai kebiasaan, mengasuh dan membesarkan dengan penuh kasih sayang dan perhatian, sampai saat kita mampu mengajarkan mereka untuk menjadi hamba Allah yang beriman.

Betapa banyak pahala dan amal jariyah yang dapat kita dapatkan dengan hanya berkutat menjaga anak seharian.
Lagi, dan lagi, tulisan ini sungguh saya tujukan untuk saya sendiri yang mesti sering-sering diingatkan. Bahwa alih-alih mengeluhkan kesusahpayahan menjadi ibu, ada banyak hal yang bisa disyukuri dan dinikmati dari peran istimewa yang menyenangkan.

Ya. Menjadi ibu memang tidak mudah.

Ada kebesaran hati yang akan terus diuji dengan berbagai masalah.
Ada air mata yang setiap hari boleh jadi tertumpah.
Ada berbagai rasa senang, sedih, bahagia, terharu, kecewa, dan rasa lainnya yang bergantian membuncah.
Karena jannah lah ganjaran tertinggi para ibu yang mampu mengemban amanah.

~Novika Amelia~

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *