Press "Enter" to skip to content

Sabarlah, Bunda.. Waktu Itu Sangat Singkat Bersama Anak-Anak. Ketika Ia Telah Dewasa Maka Hal Ini yang Bakal Terjadi

Ayo Bagikan:

Ketika Anak-anak Menjadi Dewasa 

Ketika anak2 menjadi dewasa… rumah kita akan menjadi sepi dari segala kegaduhan dan gangguan, serta tidak akan kita dapati lagi coretan dan gambar2 lucu di tembok rumah, atau tempelan dan gambar berwarna warni pada pintu lemari es..

Ketika anak2 menjadi dewasa.. kita akan dapat membaca buku favorit kita tanpa terganggu dengan kedatangan anak laki2 kita yang minta dilap hidungnya, atau anak perempuan kita yg minta dipeluk dengan manja, atau mereka meletakkan tangan mereka yg lengket di atas lembaran buku kita

Ketika anak2 menjadi dewasa… tidak akan kita dapati sisa2 potongan apel di bawah ranjang, atau makanan yg berserakan di atas meja ruang tamu, dan tidak akan ada lagi yang memecahkan vas vas bunga kita..

Ketika anak2 menjadi dewasa.. tidak akan ada lagi yang mengambil handphone kita dengan sembunyi2 untuk bermain game kesukaan mereka

Ketika anak2 menjadi dewasa.. tidak akan terdengar lagi teriakan dan pertengkaran mereka ketika berebut masuk kamar mandi, yang terkadang membuat kita tersenyum geli karenanya..

Ketika anak2 menjadi dewasa… tidak ada lagi yg mengetuk pintu kamar kita di tengah malam karena ketakutan akan mimpi buruk, dan kamar kita menjadi aman dari mereka..

Ketika anak2 menjadi dewasa..kita akan lewat di depan peralatan main bola mereka dengan tenang, tanpa merasa takut terkena lemparannya, atau masuk supermarket tanpa merasa khawatir ketika melewati tempat penjualan kue dan permen..

Ketika anak2 menjadi dewasa… kita tak lagi harus repot2 menghias makanan atau menata buah seperti kereta api untuk membuat mereka tertarik memakannya..

Ketika anak2 menjadi dewasa.. kita baru menyadari bahwa kehidupan kita menjadi berubah, mereka akan pergi meninggalkan kita dan rumah kita menjadi kosong, tenang, dan sunyi, dan kita baru menyadari bahwa hal itu tidak menyenangkan

Tetapi ketika mereka pulang sambil membawa anak2 mereka, barulah kita terkenang masa2 bersama mereka dan timbul lagi semangat baru

Nikmatilah setiap detik kebersamaan dengan mereka.. karena setiap perkataan dan perbuatan kita terhadap mereka hari ini, itulah yang akan terukir dan terkenang di masa depan..

Untuk setiap ayah dan ibu.

Hindari Pola Asuh Yang Menakuti-nakuti Anak

Dear Ayah Bunda,

Pada artikel kali ini, kami akan membahas mengenai seringnya para orang tua menakut-nakuti anak mereka agar anak mau bersikap “manis” atau menuruti keinginan orang tua. Padahal, dampaknya buruk, lo! Tentunya hal ini adalah pola asuh yang salah.

Nah, dampak apa yang akan ditimbulkan apabila orang tua berlaku seperti di atas?

Tentunya hal tersebut berdampak kurang bagus bagi perkembangan si anak selanjutnya.

ADAPUN DAMPAKNYA ADALAH:

USIA 0-12 BULAN : TAK MERASA AMAN DAN NYAMAN

Misalnya orang tua mengatakan, “Ayo dong makan, Sayang. Kalau enggak, nanti digigit cicak lo.” Atau “Kita main di  dalam aja, ya, Nak. Kalau di luar nanti ada penculik.” Jika perkataan semacam itu selalu berulang diterima bayi, lama-kelamaan ia akan menyerapnya. Di otaknya akan terekam data bahwa kalau bermain  di luar akan diculik, begitu juga anggapan cicak akan menggigitnya,. Akhirnya, si kecil jadi selalu tak merasa aman dan nyaman.

USIA 1-3 TAHUN : TERGANTUNG PADA ORANG TUA

Anak balita belum bisa membedakan, mana yang masuk akal dan tidak. Karena itu, apa yang dilihat dan didengarnya sering diserapnya sebagai sesuatu yang nyata. Menakut-nakuti justru membuatnya selalu tergantung pada orang tua. Akhirnya, anak menjadi sosok yang penakut.

USIA 3-5 TAHUN : MIMPI BURUK DAN SELALU CEMAS

Di usia ini, imajinasi anak sudah berkembang. Rasa takut yang muncul karena selalu ditakut-takuti akan membuatnya bermimpi buruk. Sementara ketakutan yang terus menerus dialami akan mengakibatkan anak selalu bingung, cemas dan tegang.

USIA 6-9 TAHUN : PROSES EKSPLORASI TERGANGGU

Perasaan takut berlebihan akan merusak kemampuan anak dalam berpikir dan berperilakusecara rasional, terutama saat pengambilan keputusan. Kemudian, jika suasana takut akibat sering ditakut-takuti itu terus menetap dalam benak anak, maka proses eksplorasi, bermain dan kegiatan rutinnya akan terganggu serta terhambat.

USIA 9-12 TAHUN : SULIT KONSENTRASI

Banyak energi terbuang percuma karena anak memelihara rasa takutnya yang berlebihan sehingga mengganggu proses belajarnya di sekolah.  Dia tak bisa konsentrasi dalam belajar. Yang seharusnya energinya dipakai untuk belajar, jadi digunakan untuk mengatasi masalah takutnya. Dampak selanjutnya, dia jadi tak percaya diri bahkan phobia. Kalau tak diantisipasi, bisa menjadi sesuatu yang menghambat segalanya. Ke mana-mana takut, hingga jiwanya juga tak berkembang. Apalagi kalau sampai memberi julukan “si penakut” kepada anak, justru tak akan memecahkan masalah.

Nah dari dampak di atas, YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN ORANG TUA:

Stop menakut-nakuti anak dalam bentuk dan dengan tujuan apapun. Jikapun terpaksa, perlu ada penjelasan dari orang tua sehingga anak akan mengerti.

Di usia bayi, basic need (kebutuhan dasar) sangat penting diperhatikan, yaitu terciptanya rasa aman dan nyaman. Tugas orang tua adalah mengondisikan suasana lingkungan yang kondusif  dengan cara membujuk atau mengajak si kecil dengan kata-kata lemah-lembut dan menyejukkan. 

Begitu pun dengan si balita dan si prasekolah, membujuknya jauh lebih efektif ketimbang menakut-nakuti yang jelas tak ada manfaatnya. Contoh, “Ade harus makan. Kalau Ade enggak makan, nanti Ade bisa sakit. Coba Ade lihat, semua orang juga makan. Papa, Mama, dan si Mbak juga makan.”

Kontrol rasa takut anak. Jangan biarkan si kecil sendirian dalam mengatasi ketakutannya. Doronglah anak untuk mengekspresikan perasaannya sehingga latar belakang ketakutannya dapat terungkap. Bermain peran menjadi salah satu cara yang cukup efektif.

Dalam permainan ini anak memerankan sosok yang selama ini dianggap menakutkannya. Misal, berperan sebagai dokter gigi yang selama ini dalam bayangannya sangat menakutkan. Ajak anak berkomunikasi dan bertukar pikiran/pendapat,tentu disesuaikan dengan usianya.

Bila rasa takut anak sudah mengganggu aktivitasnya sehari-hari, sebaiknya konsultasikan pada ahlinya.

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *