Press "Enter" to skip to content

MENGEJUTKAN! Ternyata Kepedulian Seorang Ibu Bisa Pengaruhi Kecerdasan Otak Anak

Ayo Bagikan:

MENGEJUTKAN! Ternyata Kepedulian Seorang Ibu Bisa Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Sebuah hasil penelitian tentang perkembangan otak anak bisa membuat kita ingin semakin sering memeluk anak-anak kita.

Coba perhatikan kedua gambar otak di atas. Selain besarnya yang berbeda, gambar otak di sebelah kiri juga mempunyai kerutan dan tanda hitam yang lebih sedikit.

Para ahli neurologis berusaha menginterpretasikan perbedaan kedua gambar tersebut, dan menemukan sebuah perbedaan yang sangat mengejutkan dan luar biasa.

Gambar otak di sebelah kanan ternyata memiliki kekurangan beberapa bagian yang sangat mendasar dibandingkan dengan gambar di sebelah kiri. Kekurangan tersebut menyebabkan anak tidak mungkin berkembang sesuai kapasitas yang bisa dilakukan oleh pemilik otak di gambar kiri.

Kekurangan ini juga menyebabkan pemilik otak di gambar sebelah kanan kurang cerdas, kurang mampu berempati kepada orang lain, bahkan bisa jadi, menjadi pemakai obat-obatan, atau malah terlibat dalam tindak kriminal.

Lebih buruk lagi, kekurangan tersebut bisa menjadikannya pengangguran, keterbelakangan mental hingga masalah kesehatan yang serius.

Melihat keadaan yang seperti itu, kita akan menduga bahwa pemilik otak yang berada di gambar kanan bisa jadi pernah mengalami kecelakaan atau menderita sakit yang amat parah.

Sayangnya, dugaan kita sangatlah salah

Penyebab utama dari perbedaan yang luar biasa tersebut adalah bagaimana kedua anak yang berusia 3 tahun itu diperlakukan oleh ibunya.

Anak yang disayangi sepenuh hati, dan sikap ibu yang selalu berusaha memenuhi kebutuhannya saat bayi ternyata mengalami perkembangan otak yang maksimal.

Sementara anak pemilik otak di gambar sebelah kanan, ternyata sering diabaikan dan diperlakukan dengan kasar oleh ibunya. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan banyaknya kerutan dan menciutnya otak.

Salah seorang Professor dari Universitas California, Los Angeles (UCLA), Allan Schore, menegaskan bahwa perkembangan otak anak merupakan hasil interaksi anak dengan pengasuh utamanya (yang biasanya adalah ibu).

“Perkembangan otak anak pada saat bayi sangat membutuhkan interaksi yang positif antara ibu dan bayi. Perkembangan sirkuit otak sangat tergantung dari hubungan tersebut.”

Lebih jauh Profesor Schore menjelaskan bila anak-anak tidak diperlakukan dengan baik pada dua tahun pertamanya, maka gen untuk berbagai aspek fungsi otak; seperti kecerdasan, tidak dapat berfungsi atau malah mungkin bisa jadi tidak ada.

Alam (dalam hal ini, otak) dan pemeliharaannya (dalam hal ini, pengasuhan anak), tidak dapat dipisahkan; gen atau faktor keturunan yang ada pada seorang bayi jelas-jelas terpengaruh akan bagaimana si bayi diperlakukan.

Proses pemberian kasih sayang kepada anak di awal kehidupannya memang bersifat sementara, hanya 2 tahun sejak si bayi lahir. Sayangnya, bila orangtua gagal dalam melakukan proses tersebut, maka kerusakan akan bersifat selamanya atau permanen.

Tingkat kerusakan yang terjadi memang berbeda-beda, tergantung bagaimana tindak kekerasan dan pengabaian yang anak terima.
Namun, karena 80% otak anak terbentuk di dua tahun pertamanya, maka sekecil apapun kerusakan, kekurangan tersebut akan terus menetap pada otak anak.

Untuk itulah Parents, mari kita mulai untuk lebih memperhatikan si Kecil di rumah. Sering peluk mereka, dan tunjukkan bahwa kita akan selalu berada di samping mereka.

Bukankah bila perkembangan otak anak kita maksimal, kita pula yang akan bangga bukan?

Tips Agar Ibu Tetap Dekat Dengan Anak

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ibu yang bekerja agar tetap dekat dengan si anak. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan ibu-ibu karir.

1. Sempatkan memandikan anak dipagi hari sebelum berangkat kerja. Selain menjaga kedekatan, anakpun terbiasa bangun pagi sedari balita.

2. Bila jarak kantor tidak terlalu jauh dan masih ada waktu luang, ada baiknya jika anda membiasakan sarapan bersama dimeja makan. Dengan begitu, anda masih sempat menyuapi dan bercengkrama dengan balita di rumah.

3. Disela-sela waktu luang dikantor, cobalah sesekali menelponnya dirumah. Walaupun dia masih menggunakan bahasa bayi, setidaknya dapat bercakap-cakap dan membuatnya mengenali suara anda. Disamping itu, andapun bisa memantau keadaanya dirumah.

4. sepulang kerja, cobalah untuk sekedar mengendongnya atau mengajaknya bermain. Jangan pernah gengsi bertingkah manja atau berakting sebagai teman bermainnya. Biasanya anak-anak lebih suka pada orang tua yang lebih memahami dunia mereka.

5. jangan pernah pelit memberikan pujian pada anak yang telah bertingkah baik. Terlalu banyak larangan, malah membuat mereka tidak bisa lagi membedakan mana mana yang berbahaya dan mana yang tak disukai oleh orang tuanya.

6. mengantarnya tidur sambil membacakannya dongeng merupakan proses pendekatan yang paling disukai anak. Selain itum mendongengkan anak juga berperan dalam proses perkembangan kognitif anak, terutama daya imajinasinya.

7. jika sampai dirumah sudah terlalu larut, sempatkan mampir kekamarnya untuk sekedar memeluk dan menciumnya.

8. diakhir minggu, sekedar mengantar sekolah dan menungguinya selama beberapa saat akan membuat anak merasa bangga dan lebih dekat dengan orang tuanya.

9. bersama-sama melakukan permainan yang disukai anak seperti bersepeda, berenang, bermain pistol air, atau sekedar bersenda gurau akan meningkatkan keintiman orang tua dan anak.

Cara Komunikasi yang Baik Antara Ibu dan Anak

Anak dan ibu baru bisa dekat bila komunikasi dan afeksi alias kasih sayang berlangsung baik.

“Intensitas komunikasi yang tinggi antara anak dan ibu disertai hubungan afeksi yang baik akan meningkatkan hubungan interpersonal mereka.”

Sebaliknya, kesenjangan komunikasi antara ibu dan anak dapat terjadi karena perbedaan persepsi yang relatif tajam dan ketidakselarasan sikap antara individu.

Jadi, lanjut Roswiyani, komunikasi ibu di rumah tak selalu baik jika isinya tidak berkualitas. “Karena komunikasi yang baik tidak semata-mata ditentukan batas dan waktu kuantitatif. Tapi, ditentukan kualitas komunikasi saat ibu bersama anak.”

Delapan prinsip berkomunikasi yang diuraikan Roswiyani berikut ini dapat membantu Anda agar lebih dekat dengan anak:

1. Dengarkan
Cara berkomunikasi yang baik dengan anak adalah kesediaan untuk mendengarkan. “Mendengarkan artinya memahami pesan di balik ungkapan kata-kata yang seringkali bersifat tak langsung,” ujar Roswiyani.

2. Tidak Memotong
Bila Anda bersedia mendengarkan, Anda akan menghindari kecenderungan memotong pembicaraan. “Kondisi ini memberi kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan diri secara lebih tuntas. Ia pun akan puas jika merasa sudah cukup mengungkapkan diri.” Cara ini juga akan membuat orangtua lebih memahami pemetaan pola pikir anak.

3. Gaya Bahasa
Gunakan bahasa yang dapat dimengerti anak. “Sebaiknya, orangtua memperhatikan dan menyesuaikan gaya bicara dengan taraf usia anak dan perkembangan anak, sehingga anak memahami konteks pesan yang hendak disampaikan.”

4. Tak Terbatas Waktu
“Tak ada batasan waktu yang tetap dalam berkomunikasi dengan anak atau dengan anggota keluarga lainnya, sebab pada dasarnya yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk ada dan bersama-sama di saat pihak lain sedang membutuhkan.”

5. Gestur Tubuh
Komunikasi disebut baik bila orangtua dan anak dapat melakukannya secara verbal maupun non-verbal. “Orangtua dapat memberikan sentuhan dan senyuman kepada anak, serta memerhatikan posisi tubuh supaya sejajar saat berkomunikasi agar anak merasa dihargai dan didengarkan.”

6. Tidak Pelit Pujian
“Sesekali memberikan pujian juga diperlukan agar anak merasa dihargai,” saran Roswiyani. Pujian juga akan membuat anak percaya diri.

7. Intonasi
Perhatikan intonasi suara saat berbicara. Jangan memakai nada tinggi yang menyiratkan kemarahan. Lebih baik berbicaralah dengan lembut dan santun kepada anak. “Supaya anak tidak menjauhi orangtua.”

8. Tema Lain
Berbagilah cerita hidup sehari-hari, terutama di luar konteks hal rutin. “Jangan selalu bertanya perihal sekolah dan belajar. Tanyakan juga hal lain, karena hidup anak-anak tak hanya sekolah dan belajar. Tanyakan hobi, kegiatan, dan beri perhatian pada kegiatan yang mereka minati.”

Noverita K. Waldan

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *