Press "Enter" to skip to content

Kerjaan apa yang tidak ada liburnya? Menjadi Seorang Ibu. Setuju gak nih?

Ayo Bagikan:

HAL-HAL YANG BERUBAH DRASTIS SETELAH JADI MAMAH MUDA

Apa bedanya gadis cantik manja nan imut setelah dia menjadi mamah muda yang menawan dan sayang anak?

Jawabnya adalah seperti melihat foto Mbak Dian Sastro semasa main film AADC versi satu dengan saat dia main film di AADC versi 2.0. Nah, kira-kira menurut Anda, mempesona yang mana?

Beralihnya fase kehidupan seorang perempuan menjadi ibu tidak bisa dipungkiri membawa banyak perubahan dalam pola hidup keseharian. Perubahan ini seolah terjadi otomatis dan tanpa kompromi. Mungkin saking banyak dan rumitnya perubahan itu, seorang perempuan sampai tidak sempat merasakan dan menyadari bahwa dia telah berubah sedemikian drastis. Apa saja perubahan itu, yang saya rasakan ini mungkin juga Anda alami, Moms.

Pertama, saya menjadi perempuan galak. Entah hormon apa yang berkembang sedemikian pesat dalam tubuh saya. Seingat saya, semasa belum menikah, lalu menikah sampai hamil 9 bulan saya tipikal perempuan yang tidak banyak menuntut pada keadaan. Jarang komplain. Cenderung ‘bisa kompromi’lah kalau ada yang tidak sesuai standar.

Tetapi begitu negara api menyerang, eh si anak saya lahir, seolah semua harus seperti keinginan saya.

Misal, ada suara bising di luar yang menyebabkan susah tidur. Selama ini paling ngelus dada. Giliran ada bayi, saya jadi cenderung berani komplain dan menegur. Tidak hanya dengan kata-kata, tapi disertai gestur sebal dan penuh keberatan.

Tetangga samping rumah yang nyetel musik keras-keras, saat si kecil tidur, langsung saya grebek. “Oi, Mas..!!! Bisa pelanin dikit enggak..??!!! Anak saya baru tidur tuh..!! Ganggu aja..!!” kata saya sambil bawa panci.

Pada suami juga lebih terbuka mengungkapkan ketidaksukaan. Sebelumnya mungkin banyak dipendam kali ya. Jadi bagai api dalam sekam. Ceilee..

Siapapun yang menyentuh bayi saya usahakan bersih tangannya. Termasuk bapaknya sendiri. Apalagi kalau dia habis dari luar. Pada point ini saya jadi menyadari, kenapa ibu-ibu muda itu bersikeras bayinya tidak boleh disentuh-sentuh.

Saya merasakan bagaimana khawatirnya bayi mungil saya terpapar kuman. Dan tidak segan-segan membentak siapapun yang ngeyel. Duh!

Pada masa ini saya jadi ingat ketika di kampung. Ayam babon peliharaan kami kalau telurnya sudah menetas pasti jadi sangat galak. Super protektif sama anak-anaknya. Nah, itu ayam aja galak. Masa’ saya kagak?

Kedua, lebih sigap melebihi pasukan elit khusus. Saat punya bayi, motto bai ibu-ibu adalah: SIAP-SIGAP-SIKAT.

Lha gimana tidak, saya punya alarm yang tidak bisa di-turn off sekehendak hati; tangisan bayi. Semua ibu yang merawat sendiri bayinya pasti pernah mengalami!

Pada masa awal, sekitar dua minggu pertama setelah melahirkan, hampir setiap satu jam di malam hari pasti terbangun. Bahkan kadang setengah jam tidur juga harus bangun begitu bayi menangis. Kegiatan utamanya tentu saja mengganti popok dan ngASI. Saat itu saya sampai heran sendiri.

Kok saya kuat ya? Padahal selama ini tidur adalah salah satu aktivitas paling privasi yang tidak suka ada gangguan sedikitpun! Mashaa Allah. Kekuatan otomatis yang lahir bersama lahirnya buah hati.

Saat makan lalu bayi menangis, makanannya akan ditinggalkan. Memilih mengganti popok, menggendong sebentar, neneni, atau menidurkan kembali.

Dulu, rumah berantakan bisa suka-suka kapan mau mberesi. Cucian menggunung juga bisa ditunda. Sekarang, waktu bayi tidur adalah satu-satunya kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Bukan untuk leha-leha. Ya kadang ikut tidur, sih. Tapi sebagian besar memang harus dimanfaatkan untuk segera berberes. Karena sekalinya bayi terbangun, menangis, minta nenen, mungkin Anda tidak kembali. Alias ikut tertidur bersama bayi.

Skala prioritas dalam mengerjakan pekerjaan rumah sangat penting. Dulu, bisa suka-suka lah mana yang mau didahulukan. Setelah ada bayi harus berpikir mana pekerjaan yang bisa disambi saat bayi bangun dan mana pekerjaan yang benar-benar harus dikerjakan sendiri.

Ketiga, lebih suka merawat bayi daripada merawat diri sendiri. Apa-apa untuk bayi. Yang dipikirkan bayi melulu. Urusan ibu nomor sekian. Nanti-nanti lah bisa diatur.

Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau hanya urusan mandi, seorang ibu sudah cukuplah gebyar-gebyur sabunan. Luluran mungkin tak sempat. Kecuali mandi tengah malam. Atau saat si bayi tidur siang dan ada yang njagain. Kalau siang nyambi momong tidak memungkinkan.

Bulan pertama setelah melahirkan rasanya saya menjadi perempuan buruk rupa. Aroma ompol, bercampur tumpahan ASI, gumoh bayi dan keringat sendiri sudah menjadi menu sehari-hari. Kala itu dalam sehari bisa mandi 3-4 kali. Asal gebyur dan sabunan aja pokoknya. Baru bisa move on untuk kembali tampil menawan setelah empat puluh hari kali ya, hihi.

Kalau keluar rumah, isi tas 99% adalah perlengkapan bayi. Perlengkapan ibu? Paling HP. Lainnya mulai dari tissue sampai pakaian ganti semua kebutuhan bayi. Apalagi saat mudik perdana. Tas guede juga seabrek kebutuhan bayi. Bikin checklist keperluan bayi semua. Sementara kebutuhan orang tua ala kadarnya saja.

Me-time? Saat bayi tidur lalu bisa hape-an, facebook-an, say hello dengan WA-an sambil menikmati teh panas itu sudah cukup melegakan. Iya, nggak, Moms?

Keempat, ada yang sangat berbeda dalam hal kekuatan dan kepekaan jiwa. Begitu menjadi seorang ibu, perempuan terasah untuk memiliki kemampuan memulihkan diri dengan sangat hebat.

Dia mungkin sedih, terluka, kecewa, takut, khawatir, dan seabrek perasaan yang mencekam batinnya. Namun begitu berhadapan dengan bayi mungilnya, ia dituntut tampil menjadi sosok ceria, kuat, siap sedia apapun yang diminta. Meskipun sedih, dia harus siap menghibur, menyanyi-nyanyi, mengajak bicara si permata hati. Kagak tahu ya, kalau sama suami. Apa ngambeknya malah menjadi. Xixixi..

Kepekaan hati, empati, dan kepeduliannya lebih terasa. Selama ini saya ketika melihat ibu hamil rasanya biasa saja. Lihat bayi nangis juga tidak ngefek apa-apa. Setelah punya bayi, kok jadi lebih mudah tersentuh ya? Itu pula yang akhirnya membuat saya menyadari, kenapa ibu-ibu itu cenderung perhatian dan penuh kasih sayang tidak hanya kepada anaknya sendiri. Kepada anak-anak temannya. Bahkan kepada anak-anak yang bukan siapa-siapanya.

Di atas itu semua, entah bagaimana, hampir dalam setiap hembusan napas seorang ibu berisi untaian doa. Saat menggendong hendak memandikan, tak jarang berujar, “Sehat-kuat ya, Nak.” Memakaikan baju, “Jadi anak shalih/ shalihah, ya.” Saat menyusui sambil mengelus kepalanya, memohonkan keselamatan. Berterima kasih atas karunia hiruk-pikuk seharian. Ya, mengalir tiada putusnya. Masyaa Allah. Seraya bersyukur ditakdirkan berjodoh dengan sang bayi.

Ya Alllah, lindungilah anak-anak kami dari kebodohan kami sebagai orang tuanya sendiri. Aamiin.

Ditulis oleh: Wahtini, tuturma.ma

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *