Press "Enter" to skip to content

Jangan Menghina Ibu yang Melahirkan Cesar, Ini 3 Fakta Tentang Ibu Melahirkan Cesar yang Sungguh Bikin Haru..

Ayo Bagikan:

Setelah perdebatan antara pilih mana antara ibu rumah tangga dan ibu karir, kini perdebatan di kalangan emak-emak hadir lagi dengan ibu cesar atau ibu normal.

Duh, sudahlah. Hentikan perdebatan dan membanding-bandingkan hal itu. Karena mau lahiran cesar atau normal, semua ibu bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya. Dikutip dari id.asianparent.com inilah 3 fakta ibu cesar yang tak banyak diketahui orang, dan bikin haru.

https://www.instagram.com/okisetianadewi/

Perdebatan antara proses melahirkan normal dan cesar masih saja terjadi, masih banyak yang memandang bahwa ibu melahirkan cesar dianggap bukan ibu yang sempurna.

Tapi 3 fakta berikut seharusnya bisa membuka mata, bahwa operasi cesar juga merupakan proses bertaruh nyawa untuk sang bayi.

Seperti ditulis di laman Bright Side, menjalani operasi cesar membutuhkan keberanian dan kekuatan dalam jumlah besar. Hanya seorang perempuan dan seorang ibu luar biasa yang mampu menghadapinya dengan cara yang mengagumkan.

Berikut ini 3 fakta yang selama ini hanya diketahui oleh ibu yang melahirkan cesar.

1. Keberanian menghadapi konsekuensi prosedur operasi

Banyaknya ibu yang menjalani operasi cesar sehingga dianggap sebagai prosedur biasa dan umum. Padahal, para dokter dan tenaga medis rumah sakit memasukkan operasi cesar dalam kategori operasi mayor atau operasi besar.

Seperti semua operasi mayor lainnya, cesar memiliki risiko tinggi untuk ibu dan bayi. Ditambah lagi, sangat sulit bagi suami atau keluarga untuk menemani sang ibu yang menjalani operasi cesar. Si ibu akan sendirian, tanpa kemungkinan untuk menerima dukungan dan penuh dengan ketidakpastian.

Operasi cesar adalah perjuangan melawan rasa takut dan kesendirian, dengan kekuatan dalam diri ibu dan keinginan kuat, serta cinta tanpa syarat yang membuat mereka mampu menanggung sulitnya operasi demi sang bayi.

2. Mereka tidak tahu apakah semua baik-baik saja sampai keluar dari ruang operasi

Prosedur operasi cesar tidak berhenti begitu saja setelah bayi lahir, seperti jenis operasi lainnya, dokter harus menunggu sampai efek obat bius menghilang untuk menentukan apakah operasinya berhasil atau tidak.

Si ibu masih harus diperiksa setiap jam untuk memastikan tidak ada komplikasi pasca operasi.

Selama proses operasi, si ibu dalam keadaan sadar. Memang tubuh bagian bawahnya dibius agar tidak merasakan sakit, namun si ibu merasakan semua pergerakan yang terjadi saat dokter membelah perutnya untuk mengeluarkan sang bayi.

Perasaan seperti itu tentu saja tidak menyenangkan, bila Anda sebelumnya tidak mengetahui hal ini sebelum menjalani operasi cesar, kemungkinan akan mengalami trauma karena pengalaman itu sangatlah tidak nyaman.

Meski demikian, para ibu menjalani semua proses itu dengan gagah berani, karena mereka tahu bahwa hadiah yang akan mereka terima sangatlah indah. Yakni kehadiran sang bayi yang mereka nantikan.

3. Mereka melewati proses pemulihan pasca operasi layaknya pahlawan

Seperti diketahui, proses pemulihan pasca operasi casar berlangsung lebih lama dari proses pemulihan saat melahirkan dengan normal. Namun ketika bayi lahir, dunia sebagai seorang ibu akan melingkupi mereka.

Dengan segala kebutuhan dan tuntutan perawatan bayi, mereka memenuhinya tanpa mengeluh.

Bagi ibu yang melahirkan normal, hari-hari pertama kehadiran bayi sangatlah melelahkan, apalagi bayi ibu yang melahirkan cesar. Mereka harus menjalaninya dengan menahan rasa sakit pasca operasi yang belum sepenuhnya hilang.

Hal ini membuat mereka menjadi lebih kuat, mengalahkan rasa sakit demi memberikan yang terbaik bagi bayi. Kekuatan mereka hanya bisa dimengerti oleh ibu lain yang juga menjalani operasi.

Tidak peduli betapa beratnya hari yang mereka jalani pasca operasi, mereka menghadapinya dengan senyum dan cinta yang melimpah untuk sang bayi. Karena setiap detik yang mereka lewati, mereka bisa memeluk bayi yang mereka cintai, inilah yang membuat segala letih dan sakit menjadi sepadan.

Mari kita dukung semua ibu yang ingin melahirkan secara normal maupun cesar. Keduanya sama-sama pahlawan, bertaruh nyawa demi sang bayi. Perjuangan yang dilewati juga sama-sama berat, jadi jangan saling menghakimi.

Mari saling memberi dukungan pada ibu dan bayi. Karena pekerjaan seorang ibu adalah pekerjaan seumur hidup, sama berharga dan sama bernilainya, tak peduli apakah ia melahirkan dengan cesar ataupun normal.

Cek, Apakah Ayah Terlibat Dalam Pengasuhan Anak? Simak:
PENTINGNYA KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK

Dear Ayah Bunda,

Sejumlah riset dan studi menunjukkan, keterlibatan para ayah dalam mengasuh anak sangat penting dan dapat memberikan kontribusi positif bagi anak dalam kehidupannya kelak. Berikut ini beberapa hal yang akan dimiliki anak saat Ayah ikut andil dalam mengasuhnya.

1. Lebih percaya diri
Saat bermain dengan anak, Anda kan lebih senang mengajak anak melakukan aktivitas fisik seperti berlari, melompat, melempar, atau memanjat. Menurut Melanie Horn-Mallers Ph.D, profesor di California State University, Fullerton, AS dan pakar mengenai studi keluarga, aktivitas ini bisa membuat anak lebih percaya diri. Soalnya Anda akan mendorong ayunan lebih kencang atau menyemangati anak untuk berani meluncur dari tempat yang tinggi. Ketika berhasil melakukannya, si kecil tentunya akan semakin pede. Seolah Anda ingin mengatakan, ìNak, dunia ini adalah tempat yang aman. Jadi mari menjelajahinya dan percayalah dengan kemampuanmu.î

2. IQ yang lebih tinggi
Penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph, Ontario, Kanada, pada tahun 2007 yang berjudul The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence, bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, mereka juga memiliki IQ lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun dan berkembang menjadi individu yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih baik.

3. Berani mengambil risiko
Ketika mengasuh anak, ibu cenderung khawatir dengan keselamatan anak. Sebaliknya Anda mendorong anak untuk berani mengambil risiko. Psikolog Daniel Paquette dari University of Montreal, Montreal, Kanada, dalam studinya berjudul Theorizing the Father-Child Relationship: Mechanisms and Developmental Outcomes, menemukan fakta bahwa saat bermain dengan anak, ayah akan berusaha mendorong anak untuk mampu mengatasi hambatan dan berbicara dengan orang asing. Saat berenang misalnya, Anda akan menyemangati anak untuk bisa menyelam lebih dalam.

4. Pandai bersosialisasi
Dari riset terhadap 192 bayi yang dimuat dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr. Paul Ramchandani, psikiater anak dari University of Oxford, Inggris, menemukan, bayi yang memiliki bonding yang baik dengan ayahnya selama 3 bulan pertama kehidupannya, terbukti setelah bersekolah akan menjadi anak yang pandai bergaul, populer di antara teman-temannya, dan jarang memiliki masalah dengan teman-temannya. Begitu juga setelah dewasa dan bekerja, mereka tumbuh menjadi pribadi yang bahagia.

5. Lebih disiplin
Ayah merupakan sosok yang tegas. Karena itu, saat mengasuh anak, Anda juga berusaha membuat anak disiplin dengan cara yang lebih tegas. Dalam bukunya yang berjudul Partnership Parenting, Dr. Kyle D. Pruett M.D., psikiater anak dan profesor di Yale University, AS, serta Marsha Kline Pruett, menulis, ayah lebih tegas daripada ibu dalam menghadapi anak dan menegakkan disiplin. Ibu, di sisi lain, lebih mengandalkan ikatan emosional untuk mengubah perilaku anak. Pendekatan yang beragam dari Anda dan istri ini terbukti sangat efektif dalam mendisiplinkan anak.

6. Berani mencoba hal baru
Ketika bermain dengan anak, ayah tidak sekadar menghibur si kecil. Berbeda dengan ibu yang cenderung selalu memberikan rasa aman dan melindungi saat mengasuh anak, menurut Norma L. Radin, pakar perkembangan anak dan profesor di University of Michigan, AS, ayah mengajak anak untuk berani berinteraksi dengan dunia di sekitarnya dan dengan orang lain. Anda juga mendorong anak untuk dapat mengeksplorasi kekuatannya sendiri dan berani mencoba hal-hal baru, tentunya tetap dalam pengawasan Anda.

7. Lebih toleran dan pengertian
Menurut Dr. Howard Dubowitz, MD, ahli pediatri di University of Maryland Medical Center, Baltimore, AS, dalam artikelnya Father Involvement and Childrenís Functioning at Age 6 years: A Multisite Study, anak perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya memiliki kenyamanan diri lebih tinggi dan lebih sedikit merasa depresi. Sedangkan anak laki-laki yang diasuh dengan keterlibatan ayah akan lebih mengenal dunia pria. Ia akan lebih sedikit merasa agresif, impulsif, dan tidak egois. Pada saat dewasa kelak, mereka akan menjadi orang yang lebih toleran dan pengertian

8. Lebih aktif
Kegiatan yang biasa dilakukan ayah dengan anak misalnya mencuci mobil, belajar naik sepeda, atau, bermain bola. Aktivitas itu membuat anak terhindar dari kegemukan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, 18,8% anak berusia 5-12 tahun mengalami masalah kegemukan, dengan perincian kategori gemuk 10% dan sangat gemuk 8,8%.

9. Lebih kreatif
Saat bersama anak, ayah akan mengisinya dengan aktivitas yang ëliarí, membuat mobil-mobilan dari kardus bekas, menggunakan sarung bermain Ninja atau membaca dongeng dengan beragam ekspresi wajah. Pokoknya, kreativitas ayah beda dengan ibu. Menurut Mark Runco, Ph.D, Direktur Torrance Center for Creativity & Talent Development di University of Georgia, AS, semua anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif dan tugas orangtua untuk mewujudkannya. Anda ikut serta mengembangkannya.

10. Lebih Spontan
Saat akan pergi berkemah, misalnya, seorang ibu akan menyiapkan bekal makanan. Sementara ayah lebih suka bereksperimen secara spontan untuk memasak menggunakan api unggun. Bagi Anda, yang terpenting adalah anak mendapat pengalaman baru dan belajar menghadapi risiko. Karena itu, menurut Howard Steele, Direktur Attachment Research Center Unit dari University College London, Inggris, cara itu membuat anak

Semoga bermanfaat. 🙂
berbagai sumber.

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *