Press "Enter" to skip to content

Jadi Ibu Itu Bukan Hal Mudah, Karena Itu Hadiahnya Surga. Kalau Jadi Ibu Itu Mudah, Mungkin Hadiahnya Pulsa

Ayo Bagikan:

Saat mual muntah tak berdaya di hamil muda, padahal sudah menahan diri untuk tak makan suka-suka, lalu ada yang datang dan berkata, “Aku sih dulu pas hamil strong banget tuh, gak ngidam, gak macem-macem, gak manja.”

Seketika itu, aku merasa menjadi calon ibu yang gagal.

Saat sakit pinggang tak terelakkan di hamil tua, padahal sudah membaca tips-tips senam kehamilan, lalu ada yang datang dan berkata, “Aku sih dulu hamil udah 9 bulan juga masih sanggup bolak-balik naik motor, masih kerja sana-sini, ngerjain ini itu. Jangan dibawa malas, nanti anaknya malas.”

Seketika itu, aku merasa menjadi calon ibu yang gagal.

Saat terbaring lemas, sesaat setelah melahirkan sang bayi dengan normal dan penuh perjuangan, lalu ada yang datang dan berkata, “Jangan tiduran aja, kaki gak boleh ditekuk, aku sih dulu abis lahiran langsung bisa naik turun tangga.”

Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Saat berbahagia setiap pagi menjemur sang bayi di depan rumah, lalu ada yang datang dan berkata, “Kok bayinya kuning, ASInya kurang kali ya? Kok kepalanya lonjong, ngedennya gak kuat kali ya? Itu bulu matanya digunting aja dulu, biar nantinya gak pendek gitu.”

Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Saat bayiku beranjak besar, aku titah berjalan tiada bosan, lalu ada yang datang dan berkata, “Ehh kok belum bisa jalan, umurnya udah setahun kan yaa?”

Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Saat ku ajak bawa anakku bepergian, lalu ada yang datang dan berkata, “Kok masih pakai diapers, emang umurnya berapa? Anak-anakku mah dulu umur setahun juga udah pada mandiri.”
Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Saat ibu lain sedang memperkenalkan balitanya dengan capaian surat pendek mereka, sedang anakku menyebut basmallah saja belum sempurna.

Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Saat hati berbunga karena Allah mengkaruniakan kehamilan lagi, lalu ada yang datang dan berkata, “Kebobolan yaa? Kasihan kakaknya masih kecil.”

Seketika itu, aku merasa menjadi ibu yang gagal.

Kita hidup di Indonesia.
Ah, bukan-bukan. Bukan salah Indonesia, karena Islam telah mengatur adab soal ini,
“Berkata yang baik, atau diam”

Dalam bab ini kita bisa uraikan,
Berkatalah yang dapat menyenangkan hati orang lain, terutama di saat-saat ‘paling membutuhkan’ rasa empati, karena tidak semua orang membutuhkan kritik & saran waktu itu, bisa jadi, yang ia butuhkan ‘hanya’ merasa dipahami.

Agar tak hilang rasa syukurnya atas nikmat ketentuan Allah.

Agar tak hilang sabarnya, hanya karena pandangan yang tak mengerti apa-itu-empati.
Sekali lagi, karena menjadi ibu bukanlah hal yang mudah, tidak seperti kata orang-orang yang sedang mengecilkan peran muliamu.

Kelak Allah hadiahi surga.
Kalau menjadi ibu itu mudah, mungkin hadiahnya cuma voucher pulsa.

Penulis: Indira Pitaloka

SEDERHANA, Begini Cara Membuat Bahagia Istri dan Anak-Anak
(Silahkan segera share ke Suami Masing-Masing. Segera!!)

Dear Ayah Bunda,

Sederhana karena bahagia itu sederhana. Ya, kalimat itu bukanlah mitos. Tapi memang fakta. Tidak perlu mahal, tidak perlu repot, hanya lakukan hal-hal sederhana dibawah ini Anda sudah bisa membahagiakan istri dan anak-anak.

Diantaranya adalah:

1. Selalu Ada Untuk Mereka
Usahakan selalu berada di dekat mereka di sepanjang waktu. Tentu saja ketika bekerja dan melakukan berbagai aktivitas luar rumah non keluarga lainnya kita tinggalkan keluarga kita untuk sementara waktu. Setelah urusan selesai seorang kepala keluarga harus kembali ke rumah untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

2. Selalu Memberi Perhatian
Berkomunikasilah yang baik dengan isteri-isteri dan anak-anak kita di rumah. Ciptakan kehangatan keluarga dari obrolan-obrolan, candaan-candaan, hingga kemarahan-kemarahan yang dilontarkan demi kebaikan keluarga itu sendiri. Sering-seringlah mengajak bicara anak-anak kita sehingga mereka bisa mengadukan berbagai masalah mereka serta mendapatkan solusi yang terbaik dari sosok seorang ayah.

3. Selalu Memberi Motivasi
Para anak dan isteri harus terus-menerus diberikan motivasi agar mereka mau menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga selama-lamanya. Motivasi juga perlu diberikan untuk menyemangati anak-anak dalam menyongsong masa depan mereka yang akan mereka lewati dengan penuh perjuangan, gelak tawa dan derai air mata.

4. Mengajak Ke Jalan yang Lurus
Seorang pemimpin keluarga yang baik harus mengetahui tujuan hidup ini sehingga dapat menurunkannya kepada anak-anaknya. Tujuan hidup ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan serta bertakwa kepadaNya. Setelah itu barulah kita menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada dengan ajaran agama kita, sehingga apa yang kita lakukan selalu mendapatkan kebaikan dari Tuhan kita.

5. Menjadi Suri Tauladan yang Baik
Sebelum memberikan suatu arahan kita harus berkaca pada diri kita sendiri apakah kita telah melakukan hal yang baik tersebut atau belum. Jika belum maka segeralah berubah menjadi orang yang baik saat itu juga. Dengan begitu maka anak-anak dan isteri-isteri kita tidak akan berbalik menyalahkan kita ketika kita memberikan nasihat atau arahan yang baik.

6. Memberikan Kejutan demi Kejutan
Ada kalanya diperlukan berbagai kejutan yang dapat membuat keluarga kita senang luar biasa bukan kepalang. Hadiah, tantangan, permainan, lelucon, buah tangan, penambahan perabot rumah tangga baru, dan lain sebagainya akan menjadi bumbu penyedap yang dapat semakin mengakrabkan hubungan antar anggota keluarga. Kejutan sebaiknya diberikan tidak terus-menerus dan juga tidak terlalu lama jaraknya agar anak isteri kita selalu merasa penasaran dengan kejutan selanjutnya dari sang ayah.

7. Bersenang-Senang Bersama Keluarga
Sediakan waktu luang yang cukup untuk anak isteri kita dalam melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan dan berbeda dari biasanya. Kita bisa bermain games, bercanda riang gembira, makan-makan bersama di tempat enak, berjalan-jalan berkeliling sekitar rumah, berbelanja barang kebutuhan keluarga, dan lain sebagainya yang dilakukan bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga kita.

8. Menghormati Keluarga Isteri Kita
Istri kita akan merasa senang jika keluarganya diperhatikan oleh diri kita. Bapak mertua, ibu mertua, kakak ipar, adik ipar, keponakan dari isteri kita dan lain sebagainya merupakan anggota keluarga besar kita juga. Suka tidak suka, mau tidak mau kita pun harus memperlakukan mereka dengan baik agar isteri kita bahagia.

9. Mempersiapkan Masa Depan
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan kecuali Tuhan yang Maha Esa. Bukan sesuatu hal yang mustahil diri kita akan dipanggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya dari dunia yang fana ini. Dengan demikian sangatlah penting kita mempersiapkan segala sesuatunya sebagai bekal persiapan anak-anak dan isteri kita nanti di masa depan.

google image

10. Berusaha Menghapus Emosi Jiwa
Hindari melampiaskan berbagai kemarahan dan kekesalan kepada anak-anak dan isteri-isteri kita karena hal itu dapat membawa dampak yang sangat buruk bagi perkembangan sebuah keluarga. Bukan sesuatu hal yang tidak mungkin kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi akibat dari emosi jiwa yang tidak dapat dikontrol dengan baik. Banyak-banyaklah bersabar dan menahan emosi di dalam keluarga demi kebaikan kita dan keluarga kita.

Semoga tulisan yang singkat dan sederhana ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua yang membacanya. Atas berbagai kekurangan dan kesalahan kami mohon maaf lahir dan batin, terima kasih.

Semoga bermanfaat.. 🙂

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *