Press "Enter" to skip to content

Hai, Ayah..Jangan Cuek & Sibuk Main Hape Aja, Please, Dengarkanlah Istri dan Anakmu. Karena Perhatianmu Begitu Penting

Ayo Bagikan:

Untuk para suami yang telah menjadi ayah, tolong deh dengarkan bila istri dan anakmu bicara. Jangan dicuekin ya. Apalagi ditinggal sibuk main hape. Karena perhatianmu sungguh sangat berarti bagi mereka.

Kami kutip dari laman media online, terutama kaum ayah, apa yang biasa Anda lakukan sepulang kerja? Apakah Anda telah memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama istri dan anak-anak?

Tidak sedikit para ayah yang langsung tidur atau asyik sendiri dengan gadgetnya begitu sampai rumah, ketika istrinya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini suami malah menolak mendengarkan, apalagi ketika anak minta gendong, ada saja ayah yang langsung marah-marah karena merasa dirinya sudah terlalu capek di kantor. Padahal ada banyak kebaikan yang bisa diperoleh ketika seorang pria mau meluangkan waktu untuk keluarganya.

Berikut ini beberapa alasan mengapa para ayah sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita dari istri dan anaknya sekalipun dianggapnya menjemukan:

1. Sunah Rasulullah shalallaahu ‘alaihissalam

Rasulullah bukanlah seorang yang tidak ada pekerjaan, beliau memiliki luar biasa banyak agenda setiap harinya, akan tetapi beliau tidak pernah lupa untuk berbincang dan bercanda dengan istrinya.

“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.” (HR. Thabrani)

Bahkan sekalipun berbincang sehabis shalat Isya’ adalah hal yang dibenci oleh Rasulullah, akan tetapi hal ini tidak berlaku jika dipergunakan untuk ngobrol bersama istri, Imam Bukhari menjelaskan bolehnya begadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau pengantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

2.  Membawa keberkahan

Jika Anda memiliki proyek di kantor atau usaha bisnis, bisa jadi ridho istri dan anak Anda lah yang menjadikan semua hal tersebut lancar dan mudah Anda jalankan. Jangan terlalu sombong segala kesuksesan Anda adalah karena kehebatan diri sendiri. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita dari bibir istri dan anak setiap harinya, ketika mereka merasa bahagia karena didengarkan dan diperhatikan, in syaa Allah ridho mereka itu bisa melancarkan dan memberi keberkahan untuk pekerjaan Anda.

3. Hak istri dan anak

”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.”  (HR. Thabrani)

Arti Penting Seorang Ayah

Sahabat Ummi, penelitian menunjukkan kehilangan peran ayah dalam mendidik anak berdampak negatif terhadap perkembangan karakter dan kepribadian anak lho. Seberapa penting peran ayah bagi kehidupan seorang anak? Simak pembahasan lengkapnya.

Dalam perspektif psikologi, tanggung jawab seorang ayah adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarga, termasuk kebutuhan mendidik, memberi rasa aman, memberikan kasih sayang, dan bukan hanya kebutuhan ekonomi saja (sandang, papan, pangan). Berbagi peran dengan istri dalam mendidik anak boleh-boleh saja, namun tanggung jawab sepenuhnya tetap pada ayah.

Sebab, dalam mendidik, ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh ibu, khususnya dalam hal keterampilan sosial, seperti kemandirian, kepemimpinan, komunikasi, keberanian, pengambilan keputusan, daya juang, dan keterampilan hidup lainnya yang keteladanannya dominan dimiliki oleh seorang ayah.

Ayah bukan hanya kepala keluarga, namun juga sosok yang sangat penting dalam proses perkembangan anak. Beberapa peran ayah dalam keluarga adalah sebagai penyedia kebutuhan keluarga, sosok pemimpin ideal, mentor dalam kehidupan beragama dan karier, teladan dalam akhlak, motivator kesuksesan, teman curhat, pemberi perhatian, pelindung, dan pemberi rasa aman, komunikator dalam keluarga, contoh dalam menjaga sikap dan disiplin, penyelesai masalah, pengambil keputusan, pendidik, penjaga norma, nilai dan budaya.

Penelitian Tentang  Ayah-Anak

Beberapa penelitian oleh ilmu kesehatan dan ilmu psikologi yang dilakukan oleh para ahli menyimpulkan bahwa:

1. Ayah yang terlibat dalam proses tumbuh kembang anaknya akan memiliki anak yang lebih sedikit masalah dibandingkan dengan anak yang dalam proses tumbuh kembangnya tidak didampingi oleh sosok ayah.

2. Anak yang didampingi oleh ayah dalam proses tumbuh kembangnya memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dan memiliki sedikit masalah terkait perilaku.

3. Ayah yang terlibat langsung dalam membacakan buku cerita, memiliki acara spesial dengan anaknya, tertarik dengan pendidikan anaknya, dan mengambil peran yang sama dengan ibu dalam mengelola anaknya akanmemiliki anak yang lebih berprestasi di sekolah.

4. Anak laki-laki yang memiliki keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik, dengan kendali emosi yang cukup baik pula saat anak tersebut dewasa.

5. Anak perempuan yang proses tumbuh kembangnya didampingi ayah akan memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang lebih baik saat dewasa.

Bila anak tidak memiliki figur ayah yang kuat dalam dirinya, maka yang terjadi adalah anak akan berusaha mencari figur lain, misalnya paman, kakek, guru, tetangga, atau teman senior. Namun yang menyedihkan adalah banyak anak akhirnya mencari figur dari dunia hiburan, seperti artis, tokoh fiktif, tokoh asing yang mereka tidak pernah bertemu dan bertatap muka.

Berbagai permasalahan yang dialami anak, mulai dari terpapar pornografi, adiksi game online, kecanduan gadget, manipulasi di sosial media, LGBT, hingga perundungan (bullying), salah satu penyebabnya adalah juga karena kurangnya peran ayah dalam mendidik anak di tengah keluarga.

Itulah mengapa ayah harus hadir dalam proses tumbuh kembang anak. Anak dan remaja yang tumbuh dan berkembang, mereka sedang menjalani proses pembentukan hingga remaja akhir. Bila Ayah tidak memiliki peran yang signifikan dalam proses pembentukan tersebut dan tidak memiliki kedekatan, maka ketika remaja dan dewasa anak akan susah untuk diarahkan ke sesuatu yang dianggap orangtua baik bagi dirinya.

Salah satu indikator bahwa figur ayah hadir dalam diri anak adalah anak mengidolakan ayah dalam akhlak, ibadah, karier, karakter, dan kepribadian. Ketika dia bermain bersama temannya, anak selalu menjadikan perkataan ayah sebagai rujukan dalam mengingatkan teman-temannya yang tidak baik, misalnya, “Kata ayahku itu tidak baik, lho.”

Lalu di era modern ini, dengan kesibukan yang tinggi, bagaimana peran ayah sebaiknya? Sebenarnya peran ayah yang kita bahas bukanlah hanya soal kehadiran fisik, namun juga kehadiran psikis.

Di tengah kesibukannya, ayah tetap bisa meluangkan waktu khusus bagi anak, komunikasi yang berkualitas dan suportif, dialog dan memahamkan anak mengenai pekerjaan yang dilakukannya, bila perlu suatu waktu ajak anak ke tempat kerja ayah sehingga dia tahu apa yang ayahnya lakukan, juga sering memeluk dan memberi apresiasi termasuk hadiah. Buatlah anak nyaman dan berikan rasa aman dan kasih sayang.Ingat, cinta itu harus diungkapkan, tidak cukup hanya dengan memberi uang.

Sumber: Majalah Ummi Rubrik Psikologi Keluarga 12-XXIX Desember 2017
Dr Muhammad Iqbal, M.SocSc (CounsPsy),.

Sumber: konsultasisyariah

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *