Press "Enter" to skip to content

Capek Anak Nakal Terus? Masya Allah, Yuk, Ikuti 4 Cara Ala Rasulullah SAW Untuk Mengatasi Anak Nakal

Ayo Bagikan:

Setiap orang tua tentu tidak ingin anaknya tumbuh nakal. Namun terkadang orang tua yang capek dengan kenakalan anaknya malah menggunakan cara yang makin menambah kenakalan anak.

Lalu gimaan sih cara Rasulullah Saw mengatasi anak nakal? Yuk, simak tulisan dari ummi online ini.

Sahabat ummi apakah kalian sudah tahu bagaimana nabi Muhammad mendidik putra putrinya? apakah kalian mengenal putra putri nabi Muhammad SAW? Mari kita bahas sekilas tentang putra-putri nabi Muhammad SAW dan bagaimana beliau mendidik anaknya yang nakal meskipun dalam keluarganya putra putri nabi Muhammad sangat patuh pada ayahandanya.

Nabi Muhammad hanya memiliki 6 anak itupun dari Siti khadijah. Anak pertamanya bernama Qasim yang meninggal pada usia 2 tahun. Anak kedua bernama Abdullah, Abdullah juga meninggal pada waktu masih kecil setelah nabi Muhammad SAW diangkat Allah SWT menjadi nabi. Anak ketiga yang dilahirkan oleh Siti khadijah diberi nama Zainab, Zainab meninggal pada tahun ke 8 hijriah.

Anak keempatnya bernama Ruqayyah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu lahab orang yang paling membenci nabi Muhammad SAW namun pernikahan tak berlangsung lama. Kebenciannya pada nabi Muhammad SAW membuat pernikahan mereka berakhir. Ruqayyah kemudian menikah dengan Utsman bin affan tetapi hal tersebut tak begitu lama karena Ruqayyah telah dipanggil oleh Allah lantaran penyakit demam yang dideritanya.

Anak kelimanya bernama Umi kalsum. Sepeninggal kakaknya Ruqayyah, Umi kalsum dinikahkan oleh baginda nabi dengan Utsman bin Affan. Sebelumnya Umi kalsum telah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab sama persis dengan kisah hidup kakaknya akhirnya Umi Kalsum bercerai dengan suaminya. Pernikahan Utsman bin Affan juga tak berlangsung lama, Umi kalsum kembali ke yang Maha Pencipta, Utsman bin Affan kembali berduka.

Anak Nabi Muhammad SAW yang terakhir adalah Fatimah, Fatimah merupakan anak bungsu kesayangan Rasulullah SAW. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib pemuda yang miskin namun Fatimah tetap ridho menjadi pendampingnya. Fatimah memiliki kehidupan yang lebih lama dari saudara-saudaranya, Fatimah menghadap Allah SWT setelah ayahandanya menghadap Allah 6 bulan sebelumnya.

Begitulah kisah anak-anak Rasulullah, tapi apakah kalian tahu bagaimana cara mendidik Rasulullah SAW agar anak bisa patuh pada orang tua? Begini caranya:

1. Menasihati

Anak yang nakal hanya perlu dinasihati tentang kesalahan mereka sehingga mereka tahu kesalahan mereka dan mereka tidak akan mengulanginya.

Nasihati baik-baik sampai mereka mengerti seperti yang dilakukan Rasulullah pada anak paman beliau yang diterangkan dalam hadistnya, Rasulullah SAW besabda kepada Abdullah bin Abbas ra, “wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka dia akan menjagamu, jagalah batasan-batasan (syariat) maka kamu akan mendapati-Nya dihadapnmu.

2. Mengantung alat pemukul di dalam rumah

Menggantung pemukul di rumah bukan berarti kita menerapkan jika melakukan kesalahan atau kenakalan maka akan dipukul, menggantung alat tersebut di rumah hanya untuk mendidik mereka agar takut jika melakukan perbuatan tercela. Seperti yang dikatakan Imam Ibnu Anbari,

“Rasulullah SAW tidak memaksudkan perintah untuk mengantungkan cambuk (alat pemukul) untuk memukul, karena Rasulullah SAW tidak memerintahkan hal itu pada seorangpun. Akan tetapi yang beliau maksud adalah agar hal itu menjadi pendidikan bagi mereka.

3. Menampakkan muka masam

Menampakkan muka masam merupakan salah satu cara Rasulullah SAW dalam mendidik anak yang nakal, dengan menampakkan muka masam diharapkan anak sadar akan kesalahannya yang membuat orang tuanya kecewa.

4. Menegur dengan suara keras

Pertama kali menasihati anak dengan menegur yang halus namun jika anak tidak bisa ditegur secara halus maka tegurlah secara keras agar anak bisa mengerti bahwa perbuatannya bisa berdampak pada hal yang berbahaya.

5. Tidak menegur

Diamkan anak untuk beberapa saat hingga anak menyadari kesalahannya. Jika anak tetap melakukan hal yang tercela meskipun sudah ditegur maka biarkan anak merasakan dampak yang ditimbulkannya, tetapi kalau memang dampaknya membahayakan nyawa anak lebih baik dihukum sebelum terlambat dan tunjukkan akibat apa yang akan itimbulkannya semisal dia melakukan perbuatan tersebut.

6. Memberi hukuman ringan yang tidak melanggar syariat

Hukuman adalah cara yang paling ampuh membuat anak jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya yang tercela. Hukuman yang orang tua berikan jangan sampai melewati batas syariatnya.

:: 4 Pola Asuh Paling Bijak Menghadapi Anak Temperamental

Dear Ayah Bunda,

KOMPAS.com – Masing-masing anak tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Dalam membesarkan anak yang masih dalam fase berkembang, penting bagi orangtua untuk memberikan kesempatan si kecil mengenali diri sendiri.

Satu hal lain yang sering terlupakan, orangtua janganmemaksakan keinginan terhadap anak.

“Hargai tempramen dan kemampuan anak Anda, karena perlindungan orangtua mempengaruhi temperamen anak,” ujar Dr. Sam Goldstein, Psikolog Anak, dan penulis buku Raising Risilient Children.

Goldstein menyarankan langkah-langkah berikut ini untuk orangtua memahami sifat si kecil:

Cari pengetahuan lebih banyak

Anda harus memahami dan menerima ketika anak Anda mulai tempramen. Selain itu, sebagai orang tua, Anda harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai perilaku dan menghadapi temperamen anak.

Dr. Goldstein mengatakan bahwa orangtua harus aktif mencari dan menambah informasi mengenai dunia anak. Sebab, setiap anak berbeda, maka cara menanganinya pun tidak sama.

Pola pikir Anda

Untuk mendidik anak menjadi lebih baik, sebagai orangtua pun harus memilki pola pikir yang juga baik.

Bijaksana

Orangtua harus menyadari, terkadang banyak hal yang tak dipaksakan untuk anaknya. Jadi, berilah si kecil sedikit ruang untuk kreativitasnya dalam mencoba hal-hal baru.

Namun, Anda tetap masih mengawasi. Terkadang prosesnya juga tidaklah sebentar, membutuhkan waktu yang lama.

“Beberapa anak membutuhkan waktu lama untuk merasa nyaman dan percaya diri dalam membuat kesalahan dan belajar dari pengalaman negatif,” tambah Dr.Goldstein.

Orangtua harus bekerjasama

Anda bersama pasangan harus bisa bekerja sama dalam hal mendidik anak. Sebab, sifat dan karakter seorang anak, pasti akan terlihat dari apa yang orangtua lakukan kepada mereka. Hubungan ayah dan ibu yang harmonis akan berpengaruh signifikan pada emosional dan temperamen anak.

Semoga bermanfaat yaa… 🙂

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *