Press "Enter" to skip to content

Ayah Bunda, yang Namanya Ngajari Anak Disiplin Itu Bukan Selalu Menghukum Anak. Itu SALAH, Begini yang Benar

Ayo Bagikan:

Setiap orang tua selalu ingin menerapkan kedisiplinan pada anak sejak dini. Ya, memang disiplin ini, kata para pakar, adalah kunci untuk menjalani hidup sukses. Namun ternyata banyak orang tua yang salah mengartikan disiplin.

Dikiranya disiplin adalah menghukum anak. Padahal tidak!

https://www.instagram.com/nuramirah11/

Kata Sarra Risman, pakar parenting, disiplin itu artinya membantu anak anda menyelesaikan masalahnya, sedangkan hukuman adalah cara membuat anak merasakan akibat dari kepemilikan masalah.

Setiap orang tentu punya masalah, dan menurut Sarra Risman, yang seharusnya kita lakukan adalah membesarkan anak yang bisa menyelesaikan masalah. Dan hal tersebut hanya bisa didapatkan dari mengajarkan mereka untuk fokus pada masalah tersebut. Bukan sibuk mengkhawatirkan “membayar” akibat dari punya masalah itu.

Maksudnya, anak seharusnya tidak diajarkan untuk takut dihukum, tapi displin adalah cara agar anak mampu menyelesaikan masalahnya.

Itu mengapa ketika mereka punya masalah, lanjut Sarra Risman, mereka cenderung mencari siapa yang bisa di salahkan, bukan apa yang salah dan membetulkannya. Ketrampilan memecahkan masalah tidak dimiliki scara otomatis dg lahirnya seorang manusia. Ia harus di ajar oleh orang dewasa yg cerdas, yang berperan sebagai pengasuh utama, dan di latih setiap masalah muncul. Sampai ia bisa dengan sendiri menyelesaikannya.

Mengembangkan batas dan aturan agar anak disiplin sejak dini itu perlu

Orang tua sebaiknya tidak berpikir bahwa displin hanya bisa diterapkan saat anak remaja atau dewasa. Tidak. Justru sejak usia dini, kira-kira 1-2 tahun atau masa toodler, anak sudah bisa dilatih dan diajarkan untuk berdisplin.

Pada masa toodler ini anak sedang ingin mencoba sejauh mana ia bisa menguasai, mengatur dan memanipulasi lingkungan sekitarnya. Ia sedang belajar untuk bertindak “sesuka hati.” Nah, jika anak tidak diberi batasan dan aturan, maka ia akan belajar melepas keinginan sesuka hati.

Kata pakar parenting, anak perlu tahu, ada batasan yang tidak boleh ia lewati, ada aturan yang harus ia ikuti. Ini juga nanti akan berdampak ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Dengan adanya aturan, anak juga akan merasakan adanya kepastian, dan ini akan memberikan rasa aman dan nyaman.

Orang tua bisa memulai dengan menerapkan aturan di rumah. Misalnya saja “tidak boleh memukul” atau “tidak boleh naik ke meja.” Dan terapkan aturan itu dengan konsisten, ajarkan pada anak anak bahwa dipukul itu sakit, dan agar ia tidak merasakan sakit maka terapkan aturan untuk tidak memukul.

Tegaslah pada anak. Dengan memberikan ketegasan yang positif. Cara ini seringkali lebih efektif daripada memberikan hukuman terhadap perilaku negatif anak.

Anak sebenarnya sedang berusaha ‘mendata’ mana saja dari perilakunya yang mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, berikan perhatian berupa pujian ketika anak melakukan sesuatu positif, maka kelak perilaku ini juga akan cenderung diulang anak karena dia tahu orang tuanya akan memberikan perhatian padanya. 

Berikan contoh, karena anak adalah peniru orang tuanya

https://www.instagram.com/nuramirah11/

Orang tua adalah yang paling anak temui dan amati setiap hari. Itulah alasan mengapa perilaku anak itu tidak pernah jauh dari orang tuanya.

Dan hal itu adalah cara yang paling mudah untuk mengajarkan anak agar disiplin. Tidak semata menghukum anak apabila mereka membuat kesalahan. Dengan mendidik anak untuk disiplin, akan membiasakannya untuk hidup dengan bekerja keras. Hal tersebutlah yang akan mereka hadapi nanti. Jangan buai mereka dengan kemudahan-kemudahan karena hal itu hanya akan membuat mereka cengeng dan tidak tangguh.

https://www.instagram.com/nuramirah11/

Ayah Bunda, Mulai Sekarang Tinggalkan Bahasa Keras dan Memerintah dalam Mendidik Anak

Dear Ayah Bunda,

Cara-cara mendidik anak dengan bahasa kekerasan, memerintah dan memaksa harus ditinggalkan. Orangtua dituntut untuk melakukan pendekatan yang ramah agar disiplin pada anak tumbuh karena kesadaran dan bukan karena keterpaksaan.

Hal itu diungkapkan konselor sekaligus Parental Coach, Elliyati Bahri dalam Seminar Pendidikan Keluarga di Kabupaten Semarang beberapa waktu lalu.

Menurut Elli, anak adalah calon pemimpin masa depan. Karena itu mendidik anak harus menggunakan pendekatan yang ramah otak, dengan bahasa yang lebih persuasif. Misalnya saat orang tua menyuruh anak untuk shalat. Biasanya orangtua menggunakan kalimat perintah, “ayo shalat!”.

Cara komunikasi dengan cara berteriak atau memerintah dengan suara melengking, akan membuat anak merasa tergores harga dirinya. Orangtua bisa menggunakan kalimat yang lebih ramah, seperti, “Nak, kamu Shalatnya mau setelah main sepeda atau ngerjain PR?. “Sehingga apapun jawaban sang anak akan setuju,” ujar Elli yang juga pakar Neuro Linguistic Programming (NLP) ini.

Contoh lainnya, lanjutnya, saat harus memerintah anak untuk mengerjakan PR. Orangtua bisa melakukannya dengan bahasa yang lebih persuasif seperti ‘”Kalau PR-nya sudah dikerjakan, ibu mau bikinkan minuman coklat atau jus?”.

Cara-cara persuasif tersebut, imbuhnya, akan menyibukkan pikiran sadar anak dengan pilihan yang ditawarkan. Sementara sugesti perintahnya agar sang anak mau mengerjakan PR yang menjadi kewajibannya.

Komunikasi adalah kunci dari pendidikan anak. Inilah yang harus didorong agar dilakukan para ibu di Indonesia.
Sebab, anak yang mengalami kekerasan secara verbal, seperti sering dibanding- bandingkan, di-bully, serta memberi label, dapat menimbulkan kecenderungan jiwanya akan kerdil.

Pada tahun 2025 mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Di mana negara akan memliki ledakan penduduk usia produktif yang luar biasa. Pada kondisi ini, diharapkan jangan sampai terjadi karena anak-anak yang gagal dalam pertumbuhan emosionalnya, karena anak merupakan masa depan bangsa.

“Maka orang tua harus sadar, ini merupakan aset bangsa dan tidak akan pernah terulang kembali bagi kita. Tinggal kita sendiri sadar atau tidak untuk memanfaatkan atau hanya sekedar melewatkan momentum ini,”tegasnya.

https://www.instagram.com/nuramirah11/

Elli menambahkan, hanya dengan kelembutan, kasih sayang dan hanya dengan cinta, anak- anak akan menurut dan patuh pada orangtua, karena kesadarannya yang tumbuh dan bukan karena keterpaksaan. (kompas .com)

Semoga bermanfaat yaa.. 🙂
Please Like and Share!!!

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *