Press "Enter" to skip to content

ASTAGHFIRULLAH, Bunda HINDARILAH KALIMAT INI Saat Berbicara Pada Anakmu ya..

Ayo Bagikan:

Berbicara dengan anak-anak memang menyenangkan, namun bila suasana hati bunda sedang marah, bicara dengan anak bisa-bisa malah membuat dampak buruk terhadap perkembangan anak.

Nah, sebenarnya ada beberapa kalimat yang seharusnya bunda hindari saat bicara ke anak-anak. Kami lansir dari status ig merrybunny5, berikut ini kalimat-kalimat yang perlu bunda hindari saat bicara ke anak.

Yuk, kita simak ya..

Jadi orang tua memang banyak tantangannya ya mom, Bukan hanya perkara memenuhi kebutuhan ini-itu buat Si Kecil. Kita juga mesti berhati-hati saat bicara ke anak. Salah-salah ngomong, justru bisa berdampak buruk buat perkembangan diri dan emosi mereka.

Ada enam tipe kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan di depan anak.

.

*Kalimat mengancam.

“Kalau enggak mau makan, Ibu pergi ya”

.

Kalimat seperti ini menimbulkan rasa tidak aman pada anak. Padahal orang tua adalah sumber keamanan yang utama bagi mereka. Daripada memakai kalimat ancaman, coba diganti dengan “Dek, mommy senang deh kalau kamu mau menghabiskan makannya.”

.

*Hidup bakal lebih baik kalau enggak ada anak.

“Coba enggak ada kamu, Mama masih bisa ke sana-sini tanpa kerepotan deh.”

.

Salah satu kebutuhan anak adalah merasa dirinya berharga. Kalimat seperti ini membuat mereka merasa tidak dihargai dan dicintai. Apalagi kalau yang mengucapkan orang tuanya sendiri. Saat lagi emosi, coba ingat lagi kebahagiaan dan momen-momen berharga yang mom dapat setelah hadirnya si kecil.

https://www.instagram.com/missnyctagina/

.

*Kalimat yang membandingkan anak.

“Kenapa sih kamu enggak bisa rapi seperti kakak?”

.

Orang dewasa saja pasti kesal kan kalau dibanding-bandingkan sama orang lain? Ingat, tiap anak punya karakter yang istimewa. Membandingkan mereka dengan anak lain justru membatasi perkembangan diri anak. Jadi, sebaiknya stop membandingkan anak agar mereka percaya dengan dirinya sendiri.

.

*Memberi cap ke anak.

“Duh, kamu nih nakal yaa. Enggak usah nangis, jangan cengeng!”

.

Labelling atau memberi cap ke anak sama saja membuat mereka berpikir seperti itu tentang dirinya. Anak akan menganggap dirinya sesuai label yang diberikan orang tuanya. Bisa-bisa hal ini tertanam di pikiran mereka dan jadi karakter yang kebawa sampai dewasa.

Daripada memberi cap buruk, mending sampaikan kalimat-kalimat positif ke anak. Hal ini bisa memberi efek tenang ke orang tua sekaligus membantu anak membentuk citra positif tentang dirinya.

.

*Kalimat menyalahkan.

“Kamu bikin mommy capek!”

.

Anak butuh buat merasa dicintai. Kalau mendengar kalimat yang menyalahkan mereka, Si Kecil bisa merasa rendah diri dan enggak berharga.

Buat menghindari kalimat seperti itu, kita bisa menjelaskan hal yang sebenarnya ke anak. Misalnya, “mommy lagi capek. Tunggu dulu ya, nanti mommy temenin main lagi.”

.

*Kalimat merendahkan.

“Sudah sini, biar mommy aja. Kamu lama rapiin mainannya”

.

Kalimat bernada merendahkan membuat anak merasa tidak diberi kesempatan. Kita perlu belajar percaya ke anak. Hal ini juga berperan untuk membentuk kemandirian dalam diri mereka.

Perlu diingat, kalau anak belum tentu bisa melakukan suatu hal sesuai standar orang dewasa. Jadi beri mereka kesempatan bereksplorasi dan hargai proses yang mereka jalani.

.

*Kalimat yang mengecilkan hati.

“Kenapa sih kamu enggak pernah benar makannya?”

.

Mirip seperti merendahkan, kalimat seperti ini membuat nyali anak jadi ciut. Bisa jadi anak enggak tertarik lagi buat mencoba suatu hal. Ke depannya justru bisa membentuk sikap pesimis dalam diri mereka.

Sebagai gantinya, coba sampaikan kalimat yang memotivasi mereka. Jadi, anak belajar untuk enggak gampang menyerah dan mau terus belajar.

Di usia yang masih dini, anak-anak memandang diri mereka sesuai apa disampaikan orang tuanya. Jadi, kalau kita mau membentuk sikap positif pada anak, ya hindari kata-kata negatif ke mereka.

Kalau kata orang tua zaman dulu, ucapan orang tua adalah doa. Jadi daripada menyampaikan hal buruk ke anak, mending doain yang baik-baik buat mereka.

https://www.instagram.com/missnyctagina/

Tahukah Bunda 4 Pola Asuh Terbaik dan Terburuk Bagi Anak?

Dear Ayah Bunda,

Pola asuh ada beberapa macam ya Ayah Bunda. Namun diantara sekian banyak pola asuh, kami rangkum ada 4 pola asuh secara umum. Kami lansir dari kompas(dot)com, dalam ilmu psikologi, terdapat empat kategori pola asuh anak. Masing-masing kategori memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Silahkan simak uraian berikut dan manakah kategori pola asuh yang telah Anda terapkan sebagai orangtua?

1. Pola asuh permisif

Pola asuh permisif dapat diartikan sebagai pola asuh yang cenderung lunak dan memanjakan anak.

Orangtua yang mengimplementasikan gaya pola asuh ini, biasanya tak konsisten pada aturan dan terlalu longgar dalam memberikan hukuman edukatif pada anak.

Hasil dari pola asuh permisif membentuk anak menjadi kurang disiplin, kemampuan sosial yang kurang baik, tergantung pada orangtua dan sering cemas. Peneliti mengungkapkan bahwa pola asuh ini bukan pola asuh terbaik.

https://www.instagram.com/missnyctagina/

2. Pola asuh otoriter

Pola asuh yang menerapkan aturan yang ketat. Sang anak harus mengikuti aturan tanpa ada alasan. Lalu, orangtua tak memberi kesempatan anak untuk memilih, dan umumnya menuntut anak tanpa bersifat responsif pada pendapat anak.

Efek dari pola asuh ini anak biasanya anak berperilaku lebih agresif di luar rumah, tak percaya diri, dan pemalu.

3. Pola asuh otoritatif

Pola asuh yang mendorong anak untuk mandiri. Pola asuh ini berimbang antara aturan dan kebebasan yang diberikan pada anak. Orangtua selalu mengajarkan anak cara disiplin dalam berbagai aspek kehidupan.

Efek dari pola asuh ini biasanya anak akan percaya diri, dapat diterima dengan mudah di lingkungan sosial, dan bahagia dengan diri sendiri. Para pakar berpendapat bahwa pola asuh otoritatif adalah yang terbaik.

4. Pola asuh tak terlibat

Umumnya pola asuh jenis ini terjadi lantaran kesehatan mental orangtua, atau penggunaan obat terlarang. Pola asuh ini jelas sangat buruk karena orangtua sama sekali tak peduli pada kebutuhan anak.

Alhasil, anak pun tumbuh tanpa adanya peran dari orangtua sama sekali. Anak yang mengalami hal demikian biasanya tak bahagia, tak dapat mengikuti kegiatan akademis dengan baik, dan merasa rendah diri.

Semoga bermanfaat yaa Ayah Bunda.. 🙂

Please Like and Share!!!

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *