Press "Enter" to skip to content

Apa Dampaknya Bila Anak Laki-Laki Suka Main Boneka? Sebaiknya Bunda BACA Ini, Karena Ini Penting BANGET Untuk Situasi Saat Ini..

Ayo Bagikan:

PERHATIKAN! anak laki-laki boleh main boneka tidak sih? Kalau anak perempuan lebih suka mobil-mobilan, ada masalah tidak ya?

Menurut beberapa pakar psikolog anak, ketika seorang anak masih kecil terutama di usia balita, mereka harus sudah mulai diasah daya imajinasinya karena akan mempengaruhi cara berpikirnya di masa depan. Jadi, menurut mereka sebenarnya tidak perlu terlalu mengkotak-kotakan antara anak perempuan dan laki-laki, sebab semakin lama pemikiran mereka semakin berkembang sesuai dengan imajinasi mereka. Anak-anak hendaknya dibiarkan berimajinasi.

Oleh karena itu, penganut aliran ini berpendapat adalah wajar saja bila anak laki-laki suka bermain boneka. Sama halnya dengan anak perempuan yang tidak senang bermain boneka tapi lebih tertarik dengan mobil-mobilan. Mungkin saja anak senang bermain mobil-mobilan karena imajinasinya lebih menyatu dengan lingkungan.

Namun, demikian, orangtua hendaknya tetap mendampingi mereka agar tidak keluar batas ketika berusaha mengembangkan daya kreativitasnya,

Memaksakan anak melakukan permainan yang tidak disukainya tentu juga tidak baik bagi si anak. Misalnya saja seorang anak laki-laki tidak suka bermain mobil-mobilan tapi lebih senang main dengan boneka. Namun sang ibu melarangnya bahkan memarahinya sehingga membuat anak tertekan. Hal itu bisa memengaruhi mental anak ke depannya. Padahal orangtua sebenarnya bisa saja memainkan peran, misalnya memerankan boneka tersebut sebagai atlet atau astronot.

Jadi, misalkan imajinasi anak yang ingin menjadi astronot, maka orangtua bisa mengganti bonekanya dengan boneka astronot atau hal lain yang terkait dengan harapan si kecil.

Tapi perlu diingat, bahwa ketika misalnya seorang anak laki-laki sudah mulai terobsesi ingin mendandani bonekanya, maka orangtua harus bertindak. Di sinilah pentingnya orangtua mendampingi anak di saat bermain. Jadi poin utamanya adalah bagaimana orangtua menyisihkan waktunya untuk mendampingi anak-anak sehingga ketika anak memperlihatkan ada kecenderungan yang negatif, orangtua bisa memberikan pengarahan kepadanya.

Yang penting, orangtua harus bisa meluangkan waktu setiap hari untuk dekat dengan anak. Bila memang sibuk bekerja, luangkanlah waktu di pagi atau malam hari sebelum tidur untuk bermain dengan si kecil. Ingat, pola asuh orangtua lah yang akan membangun karakter, potensi, bakat, dan passion seorang anak nantinya.

Sudah tahukah bahwa mendidik anak laki-laki dan perempuan itu ada bedanya lho.

Kami kutip dari laman ummi-online, bahwa dijelaskan perbedaan mendidik diantara keduanya.

Dibaca yaa..

Sahabat Ummi, anak laki-laki boleh main boneka tidak sih? Kalau anak perempuan lebih suka mobil-mobilan, ada masalah tidak ya?

Kenali beberapa perbedaan yang harus diterapkan saat mendidik anak karena beda gender beda penanganan ya, Sahabat Ummi.

1. Aurat

Sejak kecil, ajarkan perbedaan aurat laki-laki dan perempuan. Tanamkan pada mereka, bagian mana saja yang boleh dilihat orang lain. Hal ini berlaku untuk kedua jenis kelamin, berhubung maraknya kekerasan seksual terhadap anak, tanamkan pada mereka bahwa tidak semua orang boleh menyentuhnya di beberapa bagian tubuh. Ajarkan mereka pentingnya menjaga organ vital sejak dini.

Jangan lengah dengan orang-orang yang berada di sekitar anak karena penelitian menunjukkan kejahatan seksual biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat.

Dikutip dari beritajakarta(dot)com, “Berdasarkan kajian, pelaku kekerasan anak dan pelecehan seksual, itu mayoritas orang terdekat. Artinya pelaku bisa dari anggota keluarga sendiri dan teman dekat korban,” ujar Margaretha Hanita, Kepala Bidang Program Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

google image

2. Keamanan fisik

Anak laki-laki lebih suka kegiatan yang berhubungan dengan motorik mereka sehingga mereka lebih senang bergerak dibanding berbicara. Mereka lebih senang diajak perang-perangan atau gulat-gulatan oleh ayahnya. Jangan langsung menganggap kegiatan ini negatif ya, Sahabat Ummi.

Kedekatan ayah anak ini bisa menjadi sarana pembelajaran juga. Caranya dengan mengajak anak bermain gulat-gulatan, kemudian menghentikannya pada saat tertentu, misal ketika dia memukul terlalu keras dan sebagainya. Jelaskan padanya jika efek memukul yang terlalu bersemangat bisa membuat perut sakit atau menyebabkan memar pada tubuh.

Tanamkan pada mereka kebiasaan untuk menghargai lawan jenis sehingga anak tidak tumbuh menjadi orang yang ringan tangan (re : gampang memukul) nantinya.

“Tetapi membiarkan anak-anak tetap aktif dapat membangun karakter, kepercayaan diri, ketahanan, dan kemandiriannya. Luka ringan adalah risiko alami, berilah arahan kepada anak laki-laki Anda untuk sedikit memperlambat aktivitasnya agar tidak berbahaya,” kata Wendy Mogel, Ph.D., penulis The Blessing of a Skinned Knee.

Jika anak laki-laki diperlambat aktivitasnya, anak perempuan harus didorong untuk lebih aktif sehingga karakternya sudah terbentuk dan tidak tumbuh menjadi gadis yang manja dan lemah saat dewasa nanti. Mereka harus dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri sehingga nanti terbiasa mengambil risiko berat dalam hidupnya. Jika ini dibiasakan sejak dini, anak perempuan menjadi lebih mandiri dan lebih percaya bahwa dirinya bisa melakukan hal berat sekalipun.

https://www.instagram.com/nuramirah11/

3. Komunikasi

Anak laki-laki lebih sulit mengungkapkan perasaan sayang atau suka pada orang-orang terdekatnya. Ini tidak ada hubunganny dengan gengsi yang sering melanda anak muda zaman sekarang ya, Sahabat Ummi. Seperti dilansir daridetik health, “Sejak lahir, bayi perempuan cenderung lebih tertarik melihat warna dan tekstur, seperti pada wajah manusia, sedangkan bayi laki-laki ditarik lebih ke gerakan, seperti permainan yang berputar-putar,” kata Dr. Sax.

Hal ini menyebabkan anak perempuan lebih berorientasi pada sinyal nonverbal, seperti ekspresi dan nada suara sedangkan anak laki-laki menjadi memiliki lebih banyak kesulitan untuk menyatakan perasan dengan kata-kata.

Untuk menyiasati ini, coba bangun komunikasi terbuka dengan anak. Hal ini membuat mereka lebih mudah menyampaikan pendapat dan berbagi cerita pada kita nantinya. Jadi saat mereka beranjak remaja, kita akan menjadi sosok pertama yang mereka cari untuk berbagi cerita. Tidak ada lagi ceritanya mereka bingung dan malah mencari pelampiasan yang menyimpang untuk menyelesaikan masalah.

4. Disiplin

Bukan hal baru jik citra “bandel” lebih identik dengan anak laki-laki. Menerapkan kedisiplinan pada anak laki-laki membutuhkan usaha ekstra karena mereka cenderung tidak peduli dan tidak mendengarkan apa yang orang tuanya katakan. Ternyata hal ini dipengaruhi oleh sensitivitas pendengaran mereka yang jauh lebih rendah dibandingkan anak perempuan.

Sedangkan anak perempuan cenderung memberikan respon yang lebih baik terhadap pujian atau peringatan orang tua yang mengisyaratkan kedisiplinan. Hal ini disebabkan anak perempuan lebih sensitif dan pusat-pusat verbal dalam otaknya berkembang lebih cepat.

Sekalipun menerapkan kedisiplinan lebih mudah pada anak perempuan, patut diingat bahwa menerapkan banyak aturan bisa membuat mereka terkekang bahkan dampak buruknya mereka bisa membangkang dan melawan orang tuanya.

5. Penghargaan terhadap diri sendiri

Perempuan cenderung senang dengan pujian yang dilayangkan padanya. Ternyata ini tidak hanya berlaku untuk perempuan dewasa, Sahabat Ummi. Anak perempuan juga akan lebih terbangun jika sering diberi pujian dan kepercayaan dirinya terbiasa dipupuk sejak kecil. “mengembangkan citra diri yang sehat sangat penting untuk semua anak. Tetapi anak perempuan cenderung tumbuh kurang percaya diri dan lebih aman daripada laki-laki,” kata Carol Gilligan, Ph.D., seorang peneliti gender dan psikolog.

Penghargaan terhadap tubuhnya merupakan sebagian dari harga diri seorang perempuan. Mereka akan memperhatikan citra yang mereka tampilkan di muka umum, “Duh, orang suka gak ya kalo aku pake baju ini?” atau hal-hal semacam itu.

Sementara anak laki-laki cenderung lebih percaya diri dan cuek dengan penampilannya. Mereka tidak akan ambil pusing dengan penilaian orang. Beda dengan anak perempuan yang sensitif dan perasa.

 

 

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *