Press "Enter" to skip to content

Anak Akan Jarang Menangis, Mengamuk & REWEL, Bila Ayahnya Meluangkan Waktu LEBIH BANYAK Untuk Mereka

Ayo Bagikan:

Tentu sebagai orang tua kita akan sebel bila tingkah laku anak yang rewel, gampang menangis dan gampang mengamuk. Bila kita tidak sebagai orang tua yang sabar, maka tak jarang kita bisa memarahi dan membentak anak.

Padahal membentak anak itu berdampak buruk terhadap tumbuh kembangnya.

Nah ternyata ayah yang meluangkan waktu dengan anaknya lebih banyak dan dekat dengan anak bisa membuat anak lebih jarang menangis dan rewel lho. Saa bagikan deh tulisannya ini.

5 PERKARA LUARBIASA YANG AKAN BERLAKU KALAU PAPA LUANG LEBIH MASA DENGAN ANAK

Wahai Papa, apabila anda meluangkan lebih masa dengan mereka, bersedialah untuk melihat 5 kesan luarbiasa ini:

1. BAYI KURANG MENANGIS

Faham-faham sajalah ada sesetengah bayi memang kerap menangis walaupun kita tak tahu puncanya. Lampin dah ditukar, susu dah diberi, perut dah disapu minyak, suasana bilik pun tak terlalu panas atau sejuk. Semuanya serba selesa! Jadi, memang pening bila bayi tetap menangis dan asyik merengek seolah-olah ada sesuatu yang tak kena.

Sebuah kajian tahun 2017 yang diterbitkan dalam Jurnal Child: Care, Health and Development mendapati bahawa apabila seorang ayah banyak terlibat dalam menjaga bayi dan menguruskan keperluan mereka seperti memberi susu, menukar lampin, memandikannya – ia akan membuat bayi anda kurang meragam!

Dalam penemuan tersebut, kebarangkalian untuk bayi anda mendapat colic atau sawan tangis adalah lebih rendah peratusannya apabila Papa kerap meluangkan masa dengan bayi. Alasannya, penglibatan seorang ayah untuk menguruskan bayi ini akan membuat ibu kurang stres dan lebih gembira – dan ini adalah faktor utama yang menjadikan bayi sentiasa tenang dan ceria.

2. BERPOTENSI MENJADI CERDIK & BIJAK

Sebuah kajian yang diterbitkan dalam Science Daily mendapati bahawa bayi berusia 2 tahun mencapai keputusan yang lebih baik dalam ujian kognitif hasil penglibatan aktif ayah mereka. Lebih banyak interaksi seorang ayah dengan anak, lebih baik hasil keputusan ujian tersebut.

Selain itu, pemerhatian selama 4 dekad yang diterbitkan oleh British Journal Evolution and Human Behaviour juga membuktikan bahawa anak-anak ini yang berusia 0 hingga 5 tahun memiliki IQ lebih tinggi berbanding anak-anak yang menerima kurang perhatian daripada bapa mereka.

3. ANAK KURANG MENGAMUK / ‘BUAT PERANGAI’

Mungkin dahulunya kita selalu menganggap ayah hanya memainkan peranan untuk menghukum atau memarahi anak apabila ibu-ibu tak dapat mengawal anak mereka lagi. Tapi sebenarnya hubungan ayah yang erat adalah kunci utama dalam membentuk peribadi serta tingkah laku anak-anak.

Menurut hasil pemerhatian sekumpulan pengkaji dari Universiti Oxford mendapati bahawa emotionally involved dads ini jarang memiliki anak yang bermasalah dalam usia remaja mereka.

. GEMBIRA & CERIA SENTIASA
Siapa tak gembira kalau dapat perhatian daripada orang yang kita sayang, kan? Begitu juga dengan anak-anak kita.

Kalau nak tahu, Belanda – iaitu salah satu negara yang mempunyai rakyat paling gembira di dunia – mempunyai ‘papa dag’ bermaksud ‘hari bersama ayah’. Tidak, ia bukan sehari dalam setahun dan ia bukanlah sambutan Hari Bapa. Sebaliknya, ia adalah sehari dalam seminggu yang biasa diluangkan oleh anak khusus bersama ayah mereka.

Bagi mereka, ia bukanlah sesuatu yang ‘pelik’ bagi seorang ayah untuk membawa anak ke sekolah, membawa anak untuk membeli barang keperluan rumah, bermain di taman, atau membuat apa-apa saja yang lebih selalu kita nampak dilakukan oleh seorang ibu bersama anak. Mungkin inilah salah satu rahsia kebahagiaan mereka!

5. SUKSES DI MASA DEPAN

Dengan penglibatan seorang ayah secara hands-on, dah tentu mereka lebih memahami anak mereka secara emosi dan psikologi.

Interaksi inilah yang memberi anak lebih keyakinan dan kekuatan untuk terus berjaya dalam hidup. Maka tak hairanlah anak-anak ini dapat membesar dengan kemahiran yang diperlukan untuk menjadi seorang yang sukses di masa depan, seperti yang telah terbukti dalam banyak kajian.

JADI, PAPA KENA RAJIN LAYAN ANAK-ANAK YA!

Disebabkan pelbagai efek yang begitu signifikan ini, seorang ayah perlu terlibat dalam kehidupan anak mereka secara aktif sejak awal usia lagi.

Jangan jadikan kesibukan sebagai alasan lagi. Anak-anak pasti akan mendapat manfaatnya dalam setiap detik yang diluangkan bersama mereka.

Duh, Ayah Galau Bikin Bayi Rewel, Kok Bisa?

Bayi menangis berlebihan? Jangan buru-buru menyalahkan sang ibu. Tangis bayi yang berlebihan yang juga dikenal sebagai kolik, baru-baru ini ditemukan, ada hubungannya juga dengan depresi yang diderita ayahnya.

Secara sederhana, penelitian dari Belanda itu menunjukkan ayah yang memiliki gejala depresi kemungkinannya dua kali lebih besar untuk memiliki bayi kolik ketimbang yang tidak depresi.

Temuan dari penelitian ini menyebutkan, depresi ayah yang berkelanjutan berhubungan dengan peningkatan risiko kolik di kalangan bayi. `’Penelitian ini diharapkan bisa menginspirasi calon ayah yang mempunyai gejala depresi untuk mencari bantuan pengobatan,” kata Dr Mijke P van den Berg.

Van den Berg, dari Erasmus Medical Center di Rotterdam, dan kawan-kawan mengukur gejala depresi pada beberapa ribu pasangan ketika sang ibu mengandung 20 minggu. Mereka menemukan sekitar 12 persen ayah dan 11 persen ibu menunjukkan gejala depresi. Misalnya, mereka megiyakan pertanyaan tentang perasaan sendiri, sedih, tak berdaya atau tak berharga, tak punya `minat apa pun’ atau terlintas pikiran `mengakhiri hidup’.

Kemudian, ketika bayi-bayi dari orangtua ini mencapai usia dua bulan, para peneliti mendapatkan laporan orangtua bahwa mereka menangis berlebihan. Ada 4.426 bayi usia dua bulan yang diteliti dalam riset ini.

Secara keseluruhan, 4,1 persen ayah yang depresi dibandingkan 2,2 persen yang tidak depresi memiliki anak yang menangis setidaknya tiga jam sehari selama tiga hari atau lebih pada pekan sebelumnya.

Tangis bayi yang berlebihan, dalam data penelitian yang diungkap di jurnal Pediatrics edisi Juli 2009, lebih banyak muncul  di antara ayah bunda yang mengalami depresi.  Lebih jauh lagi, penyesuaian gejala depresif yang terjadi pada sejumlah pasangan tak mengubah hasil penelitian ini. Para peneliti menduga temuan ini bisa jadi berhubungan secara tak langsung dengan faktor perkawinan, stres atau kondisi ekonomi keluarga.

Biasanya, riset dan praktik klinis difokuskan pada pengaruh depresi ibu dan setelah kehamilan. `’Penelitian ini menunjukkan kesehatan mental ayah saat ibu mengandung ternyata juga berpengaruh,” kata van den Berg.

Ayo Bagikan:

Comments

comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *